Efek Lama di Luar Angkasa, Mutasi DNA hingga Turun Kecerdasan

CNN Indonesia | Rabu, 19/02/2020 14:41 WIB
Efek Lama di Luar Angkasa, Mutasi DNA hingga Turun Kecerdasan Ilustrasi. Terlalu lama berada di luar angkasa ternyata memberi efek tertentu pada tubuh. (Twitter)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berlama-lama tinggal di antariksa ternyata berpengaruh terhadap tubuh manusia, seperti terjadi pada astronaut NASA. Efek yang ditimbulkan tidak hanya terletak di permukaan fisik, melainkan berpengaruh juga pada struktur DNA manusia.

Hal ini berdasarkan penelitian pada tubuh astronaut NASA Scott Kelly dengan saudara kembar identiknya yakni Mark Kelly. Scott mengalami perubahan tubuh yang cukup signifikan setelah menghabiskan waktu 500 hari di luar angkasa pada 2016 lalu. Ia tinggal sekitar 1,5 tahun di Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

NASA memanfaatkan status kembar astronautnya itu untuk melangsungkan penelitian. Setelah Scott kembali ke Bumi, peneliti NASA mendapati DNA miliknya berubah.

Tubuh lebih tinggi


Selain telomeres yang memanjang, tubuh Scott pun lebih tinggi 5 cm ketimbang Mark, padahal keduanya punya tinggi badan yang sama.

"Astronaut bisa bertambah tinggi jika berada di luar angkasa karena tulang belakang yang memanjang. Namun mereka bisa kembali lagi ke ukuran sebelumnya setelah pulang ke Bumi," ucap Williams kepada CNN

Dengan kata lain, tinggi badan Scott yang tumbuh ini sifatnya cuma sementara dan bisa diprediksi.

Kecerdasan berkurang

Peneliti dari University of Pennsylvania, Mathias Basner turut memantau kognisi Scott saat itu. Basner meminta Scott dan kembarannya untuk melakukan sepuluh tes kognitif yang meliputi tes prelight (sebelum ke luar angkasa), inflight (saat di luar angkasa), dan postflight (setelah mendarat lagi di Bumi).

Basner menggunakan hasil tes sebelum penerbangan sebagai data bagi dasar penelitiannya. ia menemukan bahwa saat Scott berada di luar angkasa, kemampuan kognitifnya normal.

Namun saat kembali ke Bumi, Basner dan tim mengidentifikasi adanya penurunan kecepatan dan ketepatan pada otak Scott. Para peneliti menduga bahwa penyebab penurunan kognitif Scott dipengaruhi oleh gaya gravitasi.

[Gambas:Video CNN]

Mutasi Gen

tubuh Scott mengalami ratusan mutasi gen saat Scott kembali ke Bumi. Hal ini lantas dijelaskan oleh peneliti dari Weill Cornell Medicine, Chris Mason.

Menurutnya perjalanan ke luar angkasa dapat mempengaruhi genetika. Ia mencari perubahan kimia dalam RNA dan DNA dengan mengurutkan seluruh genom.

Para peneliti meyakini bahwa perubahan gen ini dihasilkan dari tekanan perjalanan ruang angkasa, yang dapat mengubah jalur biologis pada sel.

Molekul RNA dan DNA yang mengambang bebas ini kemudian dapat memicu produksi lemak atau protein yang baru, bahkan dapat menghidupkan dan mematikan gen tertentu.

DNA memanjang

Perubahan terjadi di bagian telomeres, bagian DNA yang terletak di ujung tiap kromosom. Biasanya, telomeres akan memendek seiring menuanya seseorang. Namun, pada kasus Scott ini justru sebaliknya. Telomeres dalam DNA-nya malah bertambah panjang.

Sebelum penelitian DNA dilakukan, para peneliti sempat berspekulasi bahwa tekanan hidup di luar angkasa akan memendekkan telomeres Scott.

"Ini sangat berseberangan dengan apa yang kami duga," jelas Susan Bailey, seorang peneliti radiasi biologis dari Universitas Colorado State yang bekerja dengan NASA untuk memelajari efek luar angkasa terhadap telomeres, seperti dikutip Nature

Massa Tubuh Berkurang dan Asam Folat Meningkat

Para peneliti yang tergabung di Johnson Space Center NASA menemukan bahwa ketika manusia berada di luar angkasa, massa tubuh mereka akan menurun tetapi kadar asam folat-nya naik. Bentuk asam folat sendiri bermanfaat untuk mengobati anemia seperti dikutip Astronomy

Dinding Arteri Menebal

Peneliti menemukan bahwa biomarker peradangan Scott meningkat dan dinding arteri karotid-nya lebih tebal dibanding sebelumnya.

Peneliti Johnson Space Center NASA, Stuart Lee melakukan penelitian terkait bagaimana peradangan dan stres oksidatif (kerusakan oleh radikal bebas di udara) dapat berdampak pada struktur dan efektivitas arteri. Arteri adalah pembuluh darah yang membawa darah dan oksigen dari jantung ke seluruh tubuh. (din/eks)