Facebook-WHO Perangi Hoaks Corona

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Kamis, 05/03/2020 10:37 WIB
Facebook-WHO Perangi Hoaks Corona Facebook dan WHO terus meluruskan informasi virus corona di berbagai platform media sosial. Setelah Tiktok kina WHO melalui Facebook. (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook menyatakan membangun kemitraan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melawan disinformasi soal wabah corona yang ada di media sosial.

Melansir Venture Beat, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan perusahaannya akan memberikan iklan gratis tanpa batas kepada WHO. Selain itu, dia mempertimbangkan untuk membagikan kredit iklan gratis kepada organisasi lain yang juga memerangi pandemi seraya mencari cara tambahan untuk mendukung upaya tersebut.

"Kami fokus untuk memastikan semua orang dapat mengakses informasi yang kredibel dan akurat. Ini sangat penting dalam keadaan darurat apa pun, tetapi sangat penting ketika ada tindakan pencegahan yang dapat Anda ambil untuk mengurangi risiko infeksi," kata Zuckerberg dalam postingan di Facebook.


Selain iklan, Zuckerberg menuliskan bahwa perusahaannya juga akan menggunakan platform untuk mengarahkan orang untuk memeriksa informasi. Misalnya, pengguna akan melihat pop-up yang mengarahkan ke website WHO atau otoritas kesehatan lokal untuk mendapat informasi terbaru.

"Jika Anda berada di negara di mana WHO telah melaporkan penularan dari orang ke orang, Anda juga akan melihatnya di News Feed Anda," ujarnya.

Selain itu, Zuckerberg berkata Facebook akan melakukan kampanye tersendiri untuk melawan hoaks dan informasi yang berbahaya. Dia berkata pihaknya ingin pengguna Facebook memiliki ruang untuk berbagi pengalaman dan berbicara tentang Covid-19 dengan benar.

"Jadi kami menghapus klaim palsu dan teori konspirasi yang telah ditandai oleh organisasi kesehatan global terkemuka. Kami juga memblokir orang-orang dari menjalankan iklan yang mencoba mengeksploitasi situasi, misalnya mengklaim bahwa produk mereka dapat menyembuhkan penyakit," ujar Zuckerberg.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, Facebook juga menyediakan data untuk membantu para peneliti melacak penyebaran virus lewat kemitraan Chan Zuckerberg Initiative dengan Gates Foundation dan para peneliti di Kamboja. Mereka mengurutkan genom Covid-19 mempublikasikan hasilnya untuk peneliti lain.

Gelombang berita palsu dan disinformasi tentang Covid-19 kian meningkat dan menimbulkan kekhawatiran.Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan mereka telah menemukan bukti Rusia menciptakan akun media sosial palsu untuk menebarkan ketakutan dan kebingungan terkait Covid-19.

Bahkan, hoaks dan disinformasi memicu kerusuhan di satu desa di Ukraina karena kekhawatiran tentang pengungsi yang kembali dari Tiongkok.

Dalam hal penangkalan, Facebook telah terbukti menjadi salah satu platform paling kuat dalam beberapa tahun terakhir untuk melakukan kampanye disinformasi. Ironisnya, Facebook juga sering terbukti enggan membatasi konten yang jelas menyesatkan seperti iklan atau posting politik. (jps/mik)