Gedung B.J Habibie Sebagai Simbol Lompatan Teknologi BPPT

BPPT, CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2020 16:59 WIB
Gedung B.J Habibie Sebagai Simbol Lompatan Teknologi BPPT Menteri Riset Teknologi/Kepala BRIN Bambang P.S. Brodjonegoro dan Kepala BPPT Hammam Riza saat peresmian nama gedung baru BPPT. (Foto: BPPT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) resmi berganti nama. Gedung I menjadi Gedung Soedjono Djoened Poesponegoro, Gedung II jadi Gedung B.J. Habibie, dan Auditorium BPPT jadi Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo. Peresmian dilakukan oleh Menteri Riset Teknologi/Kepala BRIN Bambang P.S. Brodjonegoro, dengan didampingi oleh Kepala BPPT Hammam Riza.

Menurut Hammam, hal itu merupakan bentuk penghargaan bagi tiga tokoh bangsa yang telah berjasa besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

"Soedjono adalah Menteri Riset pertama di Indonesia, dan BJ Habibie adalah Bapak Teknologi Bangsa yang juga Presiden ketiga RI. Habibie juga lah yang menjadi pendiri BPPT. Keduanya merupakan tokoh teknologi Indonesia yang memiliki dedikasi tinggi dalam pengkajian dan penerapan iptek, untuk kemajuan bangsa Indonesia pada eranya masing-masing," kata Hammam di kantor BPPT, Jakarta, Senin (9/3).


Selain itu, penggantian nama dinilai sebagai simbol lompatan teknologi. Hammam memaparkan bahwa Soedjono, Habibie, dan Soemitro memiliki konsep besar masing-masing ketika memulai pembangunan nasional.

Jika Soedjono berhasil membangun institusi riset Indonesia secara "solid", maka Habibie dikenal berkat kemampuan mengkaji serta menerapkan teknologi untuk peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), sampai pembangunan pesawat terbang secara "smart". Sementara Soemitro terbukti sukses membangun perekonomian dengan "speed".
Konsep itu disebut Hammam relevan dengan BPPT. Ia menyebut selalu menggalakkan slogan "BPPT Solid, Smart, Speed" agar menjadi budaya kerja seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN), sehingga pihaknya mampu melahirkan banyak inovasi dan teknologi untuk pembangunan bangsa.

Produk inovasi teknologi BPPT tersebut, lanjut Hammam, dimanfaatkan untuk pemangku kepentingan strategis sebagai solusi permasalahan nasional demi peningkatan daya saing.

"Serta untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, sesuai visi Indonesia yang maju, mandiri, adil, dan makmur," ujarnya.

Hammam mengungkapkan harapan agar peran dan kontribusi BPPT meningkat di era kepemimpinan Joko Widodo. Ia memberi contoh, Drone Kombatan atau PUNA MALE Elang Hitam untuk kedaulatan bangsa, serta pembangunan pabrik garam terintegrasi untuk subtitusi impor, dan inovasi bahan bakar nabati B-50 untuk kemandirian BBM, juga daya saing industri nasional.

Selain itu, masih ada inovasi-inovasi lain di bidang pangan dan kesehatan, seperti pangan pencegah stunting untuk kesejahteraan rakyat, hingga melakukan audit teknologi demi kenyamanan dan keamanan LRT Jabodetabek.

"Semua hal itu kami tujukan untuk bukti nyata bahwa BPPT siap mendorong cita Indonesia yang maju, mandiri, adil, dan makmur," kata Hammam.
Menristek Bambang P.S. Brodjonegoro menyatakan sepakat atas penamaan baru gedung dan auditorium BBPT. Terlebih, ketiga tokoh tersebut memiliki latar belakang berbeda, yakni dokter, engineering, dan ekonom.

"Ini menunjukkan bahwa aspek riset teknologi dan inovasi di Indonesia memang membutuhkan pendekatan lintas bidang," katanya.

Menurut Bambang, ketiga bidang itu bisa saling mengisi. "Dari kuantitasnya, memang di bidang kesehatan dan farmasi luar biasa banyaknya. Kemudian pertanian dan engineering, tentunya menghadapi tantangan ke depan. Kita harus bisa memanfaatkan advance teknologi di engineering, IT guna mendukung kesehatan, pangan, dan lain sebagainya," ucapnya.

Bambang mengingatkan agar BPPT menanggalkan individualisme, sehingga dapat mewujudkan kerja sama antar bidang. Ia menambahkan, "Contohnya untuk pengembangan smart farming, yang mana ahli agrikultur menunjukkan apa yang dibutuhkan, sementara ahli IT menerjemahkan kebutuhan tersebut dengan penerapan IT dan AI."

Ia memberi perumpamaan, BPPT, Eijkman, dan LIPI dapat menemukan quick win dan bekerja sama sehingga teknologi bisa menjadi solusi untuk masalah kesehatan.

"Harus ada upaya dan kerja sama, dan BPPT harus terlibat. BPPT yang punya spesialisasi bidang kesehatan untuk ikut berpartisipasi. Saya berharap pemberian nama gedung ini akan membuat kita semua menjadi semakin produktif dalam melakukan kegiatan riset litbangjirap, sehingga bisa menghasilkan invensi dan inovasi yang mendukung dan menjawab kebutuhan masyarakat dan bangsa. Itulah esensi inovasi di Indonesia," ungkap Bambang.
Senada dengan Bambang, Hammam pun menyatakan harapan serupa. "Kami di BPPT berharap dengan penamaan gedung BPPT dengan nama tokoh bangsa itu dapat menjadi tonggak, dan penyemangat pembangunan yang tengah dilakukan pemerintah Indonesia saat ini," katanya.

Hammam memiliki alasan tersendiri memilih Soedjono, Habibie, dan Soemitro. Prof. Dr. Soedjono Djoened Poesponegoro diketahui menjabat sebagai Menteri Riset pada 1962-1966. Ia adalah tokoh ilmuwan terkemuka, sekaligus pionir dalam pengembangan ilmu pengetahun, terutama di bidang kedokteran.

Sementara Prof. B.J. Habibie pernah mengabdi selama 20 tahun sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, merangkap Kepala BPPT. Habibie kemudian diangkat sebagai Presiden pada 1998. Tokoh ketiga, Soemitro Djojohadikoesoemo adalah pakar ekonomi Indonesia. Soemitro pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Riset yang saat ini dikenal sebagai Menristek.

Tidak hanya gedung dan auditorium yang berganti nama. Komisi Utama BPPT pun memiliki nama baru, yakni Ruang Jirap (Pengkajian dan Penerapan) dan Komisi I, II, dan III yang menjadi Ruang Solid, Smart, dan Speed BPPT. (rea)