3 Hari Kerja dari Rumah, Ahli Bicara Kondisi Polusi Jakarta

CNN Indonesia | Kamis, 19/03/2020 09:20 WIB
3 Hari Kerja dari Rumah, Ahli Bicara Kondisi Polusi Jakarta Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan data kualitas udara Jakarta pada Rabu (18/3) tergolong baik pada skala warna hijau. Hal ini diungkap terkait dengan kondisi polusi udara pasca penerapan kerja dari rumah guna hindari penyebaran Covid-19.

Menurut Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, kandungan PM10 di udara Jakarta, menunjukkan konsentransi yang sangat rendah dikisaran 0-50 µgram/m3.

Sementara menurut data Greenpeace Indonesia, kualitas udara Jakarta hari ini menunjukkan kualitas sedang. Berdasarkan data pada situs AQI (Air Quality Index), Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu menyebut konsentraasi polutan udara di Jakarta ada di level 53 µgram/m3.


Pengaruh kerja di rumah?

Namun, ketika ditanya apakah kualitas baik udara Jakarta terkait dengan kebijakan bekerja dari rumah, Siswanto belum dapat memastikan hal tersebut. Menurutnya, efek tersebut baru bisa terlihat dalam waktu seminggu.

"Untuk melihat itu (kualitas udara Jakarta) harus dilihat hingga seminggu ke depan, akan di update nanti tanggal 22 Maret. Nanti akan kelihatan fluktuasi PM10-nya (pengukuran parameter kualitas udara) setelah kebijakan WFH," kata Siswanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (18/3).

Sebab, menurut Siswanto, ada kemungkinan penurunan polutan PM10 berkurang akibat musim hujan. Sebab, pada musim hujan konsentrasi PM10 memang cenderung menurun akibat proses pencucian oleh hujan (rain washing).

Senada dengan Siswanto, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu mengatakan pihaknya tidak bisa menyimpulkan kualitas udara Jakarta dalam tiga hari belakangan ini.

Sebab, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi misalnya aksi bakar sampah yang juga menyumbang polutan.

"Belum bisa kita bilang ini baik atau tidak, karena tiga hari masih kurang. Lalu ada beberapa faktor, tiga hari ini ada hujan lalu angin lumayan kencang. Belum lagi sumber lain seperti yang bakar sampah," tutur Bondan.

Berdasarkan penelusuran data polusi di aplikasi AirVisual selama seminggu terakhir, sepertinya memang belum menunjukkan tren penurunan polusi udara.

Data polusi sejak Kamis (12/3) lalu hingga Rabu (18/3), berturut-turut menunjukkan angka PM2,5: 87, 98, 128, 96, 88, 94, 78.

Dari angka ini, memang belum nampak tren penurunan polusi di Jakarta sejak imbauan kerja dari rumah dilontarkan Presiden Jokowi. Sebab, angka polusi yang masih fluktuatif dan ada pengaruh eksternal lain yaitu cuaca.

[Gambas:Video CNN]

Sementara data situs BMKG, menunjukkan tren penurunan kadar polutan PM10 dalam 10 hari terakhir. Namun, angkanya pun masih fluktuatif. 

Pada Minggu (8/3) mencapai angka polusi tertinggi dengan 69 µgram/m3. Polusi turun pada Jumat (13/3) menjadi 10 µgram/m3. Tapi kembali melonjak pada Senin (16/3) jadi 18 µgram/m3. Namun pada Selasa (17/3) turun di angka 7 µgram/m3.
3 Hari Kerja dari Rumah, Ahli Bicara Kondisi Polusi JakartaData polusi PM10  Jakarta versi BMKG (Situs BMKG)

Akibat lockdown Corona, polusi China dan Italia turun

Sebelumnya, Badan Antariksa Eropa mengatakan lockdown memiliki efek positif besar pada emisi CO2.
 
Satelit ESA's Sentinel-5P memperlihatkan konsentrasi nitrogen dioksida di Italia yang diproduksi oleh mobil dan pembangkit listrik mengalami penurunan drastis sejak tanggal 1 Januari hingga 12 Maret 2020.
 
Sama dengan Italia, menurut pantauan NASA dan Badan Antariksa Eropa kualitas udara di China telah meningkat menjadi lebih baik secara signifikan sejak 1 Januari 2020.

Program Observasi Bumi Uni Eropa mengatakan pengukuran satelit menunjukkan bahwa tingkat polusi PM2.5 di Tiongkok pada Februari 2020 turun sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan dengan rata-rata untuk bulan yang sama pada 2017, 2018 dan 2019. (din/eks)