Siasat Driver GrabBike Hadapi Corona di Jalanan Kota Bandung

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 15:01 WIB
Siasat Driver GrabBike Hadapi Corona di Jalanan Kota Bandung Ilustrasi Grab (Foto: CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rahadian Anton yang seorang mitra GrabBike di Bandung tahu betul risiko yang ia hadapi saat memutuskan tetap turun ke jalan di tengah pandemi Covid-19. Baginya, melakukan pengantaran dalam situasi serawan sekarang merupakan tindakan yang memudahkan hidup orang lain, sekaligus untuk menghidupi keluarganya.

Anton mempersiapkan diri dengan maksimal. Ia yang bekerja 18 jam sehari sejak pukul 6 pagi rajin mencari informasi terbaru tentang Covid-19, dan secara rutin berkonsultasi dengan dokter melalui fitur GrabHealth. Tak lupa, ia juga mengenakan alat pelindung diri.

"Saya selalu konsultasi dengan dokter via aplikasi. Saya juga konsultasi dan menyisihkan dari hasil nge-bid ini untuk biaya resep, seperti membeli vitamin. Air putih juga selalu bawa sendiri, minimal 3 liter sehari. Ini untuk menjaga kesehatan, jadi saya tetap kuat dan fit. Selain juga alat pelindung diri seperti desinfektan, masker dan sarung tangan," ujarnya melalui panggilan telepon.


Kondisi yang sedang terjadi membuat Anton kerap mengambil pesanan GrabFood. Ia menyebut selalu mengingat imbauan Grab untuk melakukan pengantaran tanpa kontak, prosedur yang dibuat demi keamanan dan keselamatan pelanggan dan mitra Grab sendiri.

Dengan menerapkan pengantaran tanpa kontak, mitra GrabFood dan pelanggan tidak saling bersentuhan. Rahadian akan meletakkan pesanan di atas motor, lalu mundur sejauh dua meter. Setelah pelanggan mengambil pesanan dan mundur sejauh dua meter, baru ia kembali menaiki motor.

Anton juga bersiasat. Ia tidak menunggu pesanan di jalanan seperti biasa. Ia memilih menunggu di rumah, menyelesaikan pengantaran yang didapat, kemudian kembali pulang untuk membersihkan diri dan menunggu pesanan berikut. Sementara kala berkendara, ia tak lupa selalu memakai sarung tangan dan buff.

"Sejak pemberlakuan kebijakan meliburkan anak sekolah pesanan lebih sepi. Saya kemarin tetap nge-bid dan kebanyakan mengambil orderan food. Setelah mengambil pesanan dan mengantar, saya akan kembali ke rumah. Kalau sudah di rumah saya bersih-bersih dulu, cuci tangan, sebelum nge-bid lagi. Ini agar saya dan pelanggan tetap sehat," jelasnya.

Anton memang suka tantangan. Namun ia menjalaninya dengan penuh perhitungan, termasuk untuk kenyamanan pelanggan. Di musim hujan, ia selalu membawa tiga jas hujan, bersama bekal baju ganti, sarung tangan, helm, dan kaos kaki cadangan.

Pria penyuka kopi itu tak gentar oleh ancaman virus corona. Ia yang memiliki mimpi membeli rumah, menolak kalah.

"Allah sudah memberikan rezeki lebih besar dari saat ini, tapi sebagai parameter kemampuan, sekarang saya menantang diri untuk meningkatkan target. Target saya apakah tahun depan bisa membeli rumah atau tidak," ujar Anton.

Diketahui, Grab mendukung usaha Anton dengan berbagai inisiatif, salah satunya melalui gerakan #KitaVSCorona yang telah bagi-bagi ribuan masker dan hand sanitizer. Penyemprotan disinfektan pada kendaraan mitra pengemudi dan pengantaran telah dilakukan, juga penyampaian edukasi mengenai gaya hidup sehat dan pencegahan penyebaran Covid-19 melalui fitur GrabHealth. (rea/fef)