Peneliti Ubah Batu Bata Jadi Kamera Deteksi Bahan Radioaktif

CNN Indonesia | Selasa, 31/03/2020 23:56 WIB
Peneliti mengembangkan batu bata dan bahan bangunan untuk dijadikan kamera yang digunakan untuk mengungkapkan lokasi dan distribusi bahan radioaktif. Ilustrasi radioaktif. (Istockphoto/Milos Dimic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan tim peneliti dari North Carolina State University mengembangkan batu bata dan bahan bangunan lainnya untuk dijadikan sebuah kamera yang digunakan untuk mengungkapkan lokasi dan distribusi bahan radioaktif.

Para peneliti memanfaatkan pendaran optik yang distimulasi secara optis, sehingga dapat memungkinkan mereka mengambil rekam jejak historis elemen radioaktif seperti plutonium yang dapat mempengaruhi mineral tertentu.

Selain itu, pengembangan produk didasarkan pada cerita hantu yang disiarkan oleh BBC tahun 1972 dengan judul "The Stone Tape". Pembuat cerita menarasikan bahwa batu di dalam sebuah ruangan berfungsi sebagai media rekaman peristiwa masa lalu.


"Pekerjaan baru kami ini secara efektif menunjukkan bahwa batu bata dapat menjadi kamera sinar gamma yang bisa mencirikan suatu lokasi dan distribusi sumber radiasi," kata salah satu peneliti Robert Hayes dikutip New Atlas.


"Sumber radiasi yang kami demonstrasikan kali ini menggunakan 4,5 kilogram plutonium, sebelumnya kami menggunakan americium (unsur kimia sintetik yang digunakan untuk detektor asap) komersial. Dalam penelitian ini, kami dapat memprediksi secara akurat tidak hanya lokasi plutonium tetapi sumber radioaktif lainnya," lanjut Hayes.

Penelitian Hayes dan tim ini pun dipublikasikan di situs Science Direct yang berjudul 'Retrospective characterization of special nuclear material in time and space'.

Lebih lanjut kata Hayes, sebuah batu bisa bertindak sebagai media rekam jejak karena adanya sisa radiasi gamma dari suatu material. Misalnya jenis-jenis mineral seperti kuarsa atau feldspar bereaksi terhadap sinar gamma dengan cara menjebak elektron yang ada di dalam matriks kritalinnya.

[Gambas:Video CNN]

Saat terjadi rangsangan, elektron tersebut bergeser dan melepaskan cahaya yang dapat diukur lewat photomultipler.

Hal itu dapat memungkinkan peneliti membangun gambar dari setiap sumber radioaktif yang kuat dari suatu daerah.

"Penelitian kami pun menunjukkan bahwa kami dapat belajar banyak tentang ukuran dan bentuk sumber radiasi, serta sifat bahan radioaktif itu sendiri," pungkas Hayes.

(din/DAL)