Pabrik Sel Bahan Bakar Perbaiki Ventilator buat Pasien Corona

AP, CNN Indonesia | Sabtu, 04/04/2020 12:37 WIB
Pabrik Sel Bahan Bakar Perbaiki Ventilator buat Pasien Corona Ilustrasi. (Stockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan pembuat sel bahan bakar (fuel cell) di California, Amerika Serikat, berhasil memperbaiki alat bantu pernapasan ventilator yang berperan penting di tengah wabah virus corona (SARS-CoV-2) saat ini.

Gubernur California, Gavin Newsom, meminta perusahaan Bloom Energy memperbaiki alat-alat ventilator yang berada dalam kondisi rusak di California. Ventilator dibutuhkan karena penyakit Covid-19 berkaitan erat dengan infeksi saluran pernapasan.

California yang notabene merupakan negara bagian terpadat di AS dengan jumlah penduduk hampir 40 juta orang, mengalami keterbatasan pasokan ventilator.


Gubernur Newsom mengatakan pihaknya saat ini tengah mencari 10 ribu ventilator. Sejauh ini, dia menemukan lebih dari 4 ribu di ventilator, termasuk 170 ventilator yang perlu diperbaiki.

Dalam proses pembuatan sel bahan bakar, Bloom Energy yang menggabungkan udara dan hidrogen untuk menghasilkan listrik melalui reaksi kimia.

[Gambas:Video CNN]

Untuk mendapatkan udara dan hidrogen dalam jumlah yang tepat, sel bahan bakar menggunakan selang dan katup serta kipas dengan fungsi yang mirip dengan ventilator.

Chief Operations Officer, Bloom Energy, Susan Brennan mengatakan perusahaan tidak mendapat untung dari perbaikan ini, tapi mereka berharap pemerintah AS bisa mengganti pengeluaran perbaikan ventilator.

Dalam proses perbaikan ventilator, Brennan melibatkan teknisi di perusahaannya, salah satunya adalah Joe Tavi. Saat diperintahkan untuk memperbaiki ventilator, Tavi menyanggupinya setelah membaca 300 halaman instruksi manual ventilator jenis LTD 1200.

Sejak saat itu, perusahaan yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan terkait ventilator telah berhasil memperbaiki 500 alat tersebut.

Dilansir dari AP News, hal ini serupa dengan yang terjadi saat Perang Dunia I, di mana perusahaan raksasa manufaktur menggunakan keahlian perakitan untuk membuat pesawat hingga tank. Saat ini, beberapa perusahaan sedang memutar otak untuk melakukan hal serupa, yakni memproduksi peralatan medis. (jnp/stu)