Peneliti Berhasil Menguak Misteri Aroma Sehabis Hujan

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 13:13 WIB
Peneliti Berhasil Menguak Misteri Aroma Sehabis Hujan Ilustrasi hujan.(Istockphoto/Yury Karamanenko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti berhasil menguak misteri 'aroma' saat air hujan menyentuh tanah. Aroma khas ini dijelaskan oleh peneliti disebabkan oleh sebuah bakteri yang berevolusi agar mampu menghasilkan aroma tersebut.

Tim ilmuwan menunjukkan bahwa aroma tersebut muncul dari bakteri usai hujan untuk menarik antropoda tertentu agar bisa menyebarkan spora. Bakteri tanah tersebut bernama Streptomyces, sedangkan antropoda tersebut adalah makhluk primitif berkaki enam yang disebut Springtails (Collembola)

Streptomyces adalah bakteri signifikan secara global yang menghasilkan berbagai senyawa organik. Streptomyces telah dieksploitasi oleh manusia sebagai antibiotik paling efektif di dunia.


Dilansir dari Miragenews, Streptomyces juga menghasilkan geosmin dan berbagai senyawa organik mudah menguap lainnya (VOC). Aroma tersebut adalah contoh komunikasi kimia berusia 500 juta tahun yang berevolusi dan berkembang secara alami.

Aroma ini sangat menonjol ketika hujan pertama musim mencapai tanah kering. Dua peneliti Australia menamakan aroma tersebut sebagai petrichor, setelah sebuah studi  pada 1960-an.

Salah satu komponen utama petrichor adalah senyawa organik yang disebut geosmin. Hampir semua spesies Streptomyces melepaskan geosmin ketika mereka mati.

"Fakta bahwa mereka semua membuat geosmin menunjukkan bahwa itu memberi keuntungan selektif pada bakteri, kalau tidak mereka tidak akan melakukannya," ujar seorang penulis dalam penelitian ini, Mark Buttner.

Di sejumlah percobaan laboratorium dan lapangan, para peneliti menemukan geosmin secara khusus menarik sejenis antropoda kecil yang disebut springtails.

"Jadi, kami curiga mereka memberi sinyal pada sesuatu dan yang paling jelas adalah beberapa hewan atau serangga yang mungkin membantu mendistribusikan spora Streptomyces," kata Buttner.

Dengan mempelajari antena springtails, para peneliti menemukan bahwa organisme tersebut dapat langsung merasakan geosmin. Para peneliti menduga kedua organisme berevolusi bersama.

Streptomyces berfungsi sebagai makanan untuk springtails, sedangkan springtails kemudian menyebarkan spora bakteri membantu benih koloni Streptomyces baru.

"Proses ini saling menguntungkan. Springtails memakan Streptomyces, geosmin menarik Springtails ke sumber makanan. Kemudian springtails menyebabkan spora, yang menempel di tubuh  dan di feses. Sehingga Streptomyces tersebar," tutur Buttner.

Ini analog dengan burung yang memakan buah tanaman. Mereka mendapatkan makanan tetapi mereka juga mendistribusikan benih, yang bermanfaat bagi tanaman.

Hubungan simbiosis mutualisme ini adalah kunci untuk kelangsungan hidup Streptomyces. Sebab bakteri diketahui menghasilkan senyawa antibiotik tertentu yang membuatnya beracun bagi organisme lain seperti lalat atau nematoda.


Springtails, di sisi lain, menghasilkan sejumlah enzim baru yang dapat menetralisir antibiotik yang diproduksi oleh Streptomyces.

"Kami dulu percaya bahwa spora Streptomyces didistribusikan oleh angin dan air, tetapi hanya ada sedikit ruang bagi angin atau air untuk melakukan apa pun di kompartemen udara kecil di tanah," kata Buttner.

Dilansir dari New Atlas, penemuan baru yang meyakinkan ini menunjukkan alasan utama penyebab aroma tanah yang sangat ikonik tersebut. Aroma terbut disebabkan oleh  hubungan berusia hampir 500 juta tahun antara bakteri dan antropoda, dengan komunikasi kimia.

"Jadi, hewan primitif kecil ini menjadi penting dalam menyelesaikan siklus hidup Streptomyces, salah satu sumber antibiotik terpenting yang diketahui sains," ujar Buttner.




(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]