Bahaya dan Cara Atasi Anak Kecanduan Gim Imbas WFH Corona

CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2020 18:15 WIB
Bahaya dan Cara Atasi Anak Kecanduan Gim Imbas WFH Corona Ilustrasi gim anak. (CNN Indonesia/ M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebijakan belajar atau bekerja dari rumah (Work From telah berlangsung lebih dari tiga minggu untuk menekan penyebaran pandemi virus corona SARS-Cov-2 di Indonesia. Kegiatan belajar dari rumah tersebut mengharuskan anak yang duduk di bangku sekolah menggunakan gawai tiap harinya, guna menunjang aktivitas belajar-mengajar.

Bahkan untuk meredam rasa bosan karena tidak diizinkan keluar rumah, biasanya orang tua memberikan akses kepada anak untuk menonton program kesukaan lewat video streaming seperti Youtube.

Namun para orang tua lupa terhadap bahaya yang dapat mengintai anak-anak mereka ketika sering menggunakan gadget, tidak hanya saat masa-masa pandemi virus corona. Salah satu bahayanya ialah paparan radiasi yang dipancarkan oleh perangkat gadget itu sendiri.


Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011, emisi radiasi perangkat ponsel dan nirkabel dinilai cukup tinggi, seperti dikutip Play Ground Equipment.


Seorang dokter dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Toronto Kanada, Anthony Miller mengungkapkan bahwa paparan frekuensi radio merupakan ancaman nyata bagi anak-anak.

Selain itu, sering bermain gadget juga berdampak negatif pada fungsi otak anak. Misalnya, gangguan belajar dan penurunan kognitif.

Menanggapi hal itu, Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC Pratama Persadha mengatakan pentingnya peran orang tua saat mendampingi anak bermain gadget.

Lalu ia menyarankan kepada para orang tua untuk memanfaatkan fitur Parental Control yang disematkan di menu Settings (pengaturan) ponsel.


"Peran orang tua sangat penting, baik akses anak ke internet lewat smartphone maupun laptop, orang tua harus tahu benar bagaimana melakukan pengawasan dan pembatasan," kata Pratama saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (7/4).

"Di berbagai gawai ada fitur parental control sehingga anak tidak bisa mengakses berbagai layanan yang khusus diperuntukkan untuk orang dewasa," sambungnya.

Lebih lanjut kata Pratama, ke depannya orang tua mesti diberikan edukasi secara berkala untuk bisa membatasi jumlah data yang dipakai anak. Namun yang pasti, Pratama mengakui di saat era digital yang makin canggih ini, orang tua tidak bisa melarang anak untuk tidak bermain gadget.

"Prinsipnya di era serba digital anak tidak bisa dilarang, namun bisa diawasi, dibatasi dan diarahkan untuk kegiatan di ranah digital yang positif. Misalnya, karena kemampuan akses internet yang berbeda, tugas hendaknya tidak menghabiskan banyak kuota internet. Minimal internet digunakan sebagai sarana pelaporan tugas," pungkasnya.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]