Menurut Ahmad komplikasi ini disebabkan chloroquine memiliki efek anti virus karena menghambat proses internalisasi virus, endocytosis.
Akan tetapi, penghambatan proses endocytosis oleh chloroquine menjadi pedang bermata dua karena proses endocytosis adalah proses alami yang juga diperlukan sel atau organ tubuh untuk internalisasi alami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sel atau organ tubuh yang melakukan proses endocytosis adalah kolesterol, hingga sel darah putih. Proses ini umum dilakukan oleh organ dan sel dalam fisiologi tubuh sehari-hari.
Oleh karena itu, Ahmad mengatakan obat chloroquine harus diuji klinis terlebih dahulu untuk melihat efek samping. Ia mengatakan saat ini Indonesia sedang melakukan uji klinis obat tersebut.
"Otoritas dunia seperti FDA juga belum melabel obat malaria ini sebagai obat Covid19 apalagi efek negatif obat ini memang bisa berbahaya," ujar Ahmad.
Lihat juga:Lima Aplikasi Kuis Pembunuh Bosan Kala PSBB |
Penelitian ini awalnya dilakukan untuk menguji efektivitas dan keamanan chloroquine untuk Covid-19. Penelitian ini dilakukan pada 440 pasien positif virus corona.
Peneliti memberikan dosis tinggi yakni 600 miligram chloroquine dua kali sehari selama 10 hari pada sebagian partisipan. Sebagian lain diberikan dosis rendah 450 miligram selama lima hari.
Setelah mencoba pada 81 pasien, peneliti melihat beberapa tanda yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari pengobatan, banyak pasien dalam kelompok dosis tinggi mengalami masalah irama jantung. Dua pasien dalam kelompok dosis tinggi meninggal dunia setelah mengalami detak jantung yang cepat dan abnormal. (jnp/mik)