Ketua DPP Organda Korwil II Shafruhan Sinungan yang mengkoordinasikan Jakarta, Jawa Barat, dan Banten mengatakan, pengusaha angkutan umum memilih mengandangkan kendaraan sebab masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan di rumah. Sejalan dengan itu, awak kendaraan terpaksa dirumahkan.
Organda DKI Jakarta sebelumnya sudah menjelaskan hanya 10 persen dari 85.900 kendaraan terdata yang masih bekerja selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Sedangkan Shafruhan menjelaskan 90 persen dari total sekitar 50 ribu angkutan umum di Bodebek sudah tidak beroperasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shafruhan juga memperkirakan PSBB yang diberlakukan di Bodebek sejak 15 April hingga dua pekan ke depan bakal membuat kondisi pengusaha dan awak kendaraan semakin terpuruk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain angkutan umum yang tetap beroperasi mesti mengikuti jam operasional yang ditetapkan pada masing-masing wilayah, rutin melakukan disinfeksi kendaraan, memastikan petugas dan penumpang tidak memiliki suhu tubuh tinggi, serta menjaga jarak antar penumpang minimal satu meter.
"Sama seperti Jakarta, banyak awak kendaraan tidak bekerja lagi. Sekarang ya sebelum PSBB Bodebek, penurunan pendapatan sudah 75-100 persen, 100 persen buat bus angkutan umum," kata Shafruhan melalui telepon, Kamis (16/4).
"Sekarang sebagai contoh kalau lihat di Bogor, angkot yang biasanya banyak banget sudah hilang. Mana bisa mereka operasi, sementara penumpang tidak ada," sambungnya.
Bogor merupakan kota yang dikenal dengan julukan kota seribu angkot. Julukan itu diberikan bukan hanya karena Bogor memang memiliki ribuan angkot, melainkan juga karena moda transportasi memiliki warna bodi yang sama sehingga mudah ditemukan dan dikenali masyarakat.
Pemerintah Kota Bogor sudah mulai melakukan berbagai upaya mengurangi populasi angkot di Bogor, salah satunya dengan cara tidak memberikan izin perpanjangan operasi buat yang berusia di atas 20 tahun. (ryh/fea)