Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau berhasil diidentifikasi menggunakan metode Operational Land Imager (OLI) dan Multi-angle Imaging Spectroradiometer (MISR).
Berdasarkan bidikan kedua metode tersebut, terlihat gumpalan plume (fase asap) yang menjulang tinggi dan berwarna putih bersih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebetulnya, tak hanya Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi, ada lima gunung berapi lain juga erupsi dalam waktu hampir bersamaan, yaitu Gunung Kerinci (Pulau Sumatra), Gunung Merapi dan Semeru (Pulau Jawa), Gunung Ibu dan Dukono (Maluku).
Ahli vulkanologi sekaligus Mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono sempat mengatakan bahwa fenomena letusan enam gunung api di Indonesia itu hanya kebetulan.
"Menurut saya tidak ada kaitannya, dan bisa diartikan hanya kebetulan saja," kata Surono pada Sabtu, 11 April 2020.
Banyak kalangan menilai bahwa dentuman itu berasal dari erupsi Anak Krakatau, namun hal ini dibantah oleh Kepala Bidang Mitigasi PVMBG Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana. Ia menjelaskan ambruknya dapur magma itu biasanya terjadi untuk erupsi-erupsi dengan skala besar. Devy mengatakan erupsi yang terjadi di Anak Krakatau berskala kecil.
"Perlu diketahui suara dentuman adalah fenomena yang umum saat terjadi erupsi gunung api. Tidak semua erupsi menghasilkan dentuman, tergantung mekanisme dan faktor akustik. Dentuman sendiri tidak merefleksikan besar kecilnya erupsi," kata Devy. (din/mik)