RS Malaysia Uji Alat Deteksi Infeksi Covid-19 Jarak Jauh

jnp, CNN Indonesia | Senin, 11/05/2020 07:10 WIB
Ara Wiraswara (39), seorang ASN, menunjukkan hasil rontgen paru-paru miliknya di Bogor. Dari pengalaman Ara selama menjalani isolasi di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, dukungan moral sangat dibutuhkan oleh pasien. Ilustrasi (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecerdasan buatan (Artificial Intellegence/AI) besutan perusahaan Inggris mampu memberikan sebuah analisa apakah pasien memiliki risiko tinggi Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2. Negara tetangga, Malaysia sedang menguji coba sistem AI tersebut.

Analisa dari kecerdasan buatan Axial AI itu diberikan setelah memindai apakah paru-paru pasien terkena Covid-19 atau tidak. Axial Ai adalah anak perusahaan SkyMind asal Inggris.

Algoritma AI itu sebelumnya telah digunakan untuk memindai paru-paru ribuan pasien di Wuhan, China. Algoritma tersebut dikembangkan oleh Axial AI dan mampu menganalisa citra CT dalam hitungan detik.


Di seluruh dunia, teknologi kecerdasan buatan sedang dikembangkan dengan cepat sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi penularan infeksi virus corona SARS-CoV-2.

Beberapa rumah sakit di Inggris pun meluncurkan alat AI untuk membantu staf medis menganalisis X-ray  lebih cepat. Staf  medis di Rumah Sakit Royal Bolton, menggunakan AI yang telah diuji coba ke lebih dari 11 ribu X-ray dada. Angka tersebut termasuk sekitar 500 kasus Covid-19 yang terkonfirmasi.

Dokter radiologi di Rumah Sakit Royal Bolton, Rizwan Malik mengatakan AI telah digunakan untuk rontgen lebih dari 100 pasien. Algoritma didesain untuk mencari tanda-tanda kemungkinan gejala Covid-19, salah satunya adalah pola ground glass opacities.

"Ini pada dasarnya memberi dokter alat lain untuk membantu mereka membuat keputusan. Misalnya, pasien mana yang akan mereka akui, yang akan mereka kirim pulang," kata Malik

Dilansir dari BBC, Dokter spesialis paru di University Hospital Southampton, Thomas Daniels mengatakan AI tersebut bisa sangat berguna karena menerjemahkan pemindaian sehingga dokter dapat mencerna informasi dengan cepat bisa sangat berguna. 

"Ahli radiologi sering membutuhkan berjam-jam atau kadang-kadang bahkan berhari-hari untuk sampai ke rontgen dada khusus itu dan menulis laporan tentang itu," kata Daniels.

Namun, kecerdasan buatan ini masih dalam tahap pengujian. Pada pemindaian 147 pasien suspect Covid-19, AI itu berhasil memindai akurat 90 persen apakah seseorang positif atau tidak.

Dilansir dari Tech Times, AI juga dikembangkan agar masyarakat bisa memeriksa paru-paru dari rumah untuk mengecek gejala Covid-19. Teknologi dikembangkan oleh negara Polandia dan dinamakan StethoMe. 

AI telah digunakan oleh layanan kesehatan digital di Spanyol maupun Prancis. StethoMe berjanji kepada kedua layanan kesehatan digital untuk membantu pasien tetap terhubung dengan tenaga medis setiap waktu.

"Tim ahli teknologi dan medis kami telah mengabdikan lima tahun terakhir upaya R&D untuk menciptakan stetoskop nirkabel pintar. Pada saat di mana layanan medis berada di bawah tekanan di seluruh dunia karena pandemi Covid-19, kami percaya dapat  berkontribusi pada pengurangan beban pada sistem perawatan kesehatan dan mengurangi penyebaran penyakit yang tidak perlu" kata CEO StethoMe, Wojciech Radomski.

StethoMe digunakan dengan aplikasi ponsel dan menggunakan algoritma AI berbasis cloud dalam sistemnya untuk mendeteksi, menganalisis, dan mengklasifikasikan suara patologis.

Fitur ini memungkinkan orang dewasa, dan bahkan anak-anak, untuk mendengarkan paru-paru mereka sendiri di rumah. StethoMe bersama layanan kesehatan digital, saat ini menyediakan informasi khusus pasien kepada penyedia layanan kesehatan untuk pemeriksaan cepat masalah pernapasan potensial yang mungkin menunjukkan infeksi Covid-19

Berbagai tes algoritma StethoMe yang kuat telah mengungkapkan bahwa sistem ini 29 persen lebih akurat dibandingkan dengan dokter spesialis paru. (eks/eks)

[Gambas:Video CNN]