Fakta Komet Swan dan Hujan Meteor Komet Halley Pekan Ini

CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2020 17:31 WIB
komet halley Komet Halley. Jejak lintasan komet Halley menjadi hujan meteor yang menarik di langit Bumi tiap bulan Mei dan Oktober. (NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekan ini langit Indonesia kedatangan berbagai fenomena langit menarik. Salah satunya adalah melintasnya Komet Swan dan hujan meteor Eta Aquirids yang dihasilkan dari jejak Komet Halley.

Kedua fenomena itu bisa disaksikan tanpa alat bantu jika dalam cuaca gelap.

Hujan meteor Eta Aquirids sendiri aktif dari 19 April hingga 28 Mei. Hujan meteor dari jejak Komet Halley ini mencapai puncaknya pada Rabu (6/5) dini hari.


"Menurut International Meteor Organization, Eta Aquarids tidak punya puncak yang tajam. Biasanya sekitar tanggal 6-7 Mei dengan kisaran seminggu," jelas Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto saat dihubungi lewat pesan teks, Selasa (5/5).

Sehingga fenomena ini bisa disaksikan sembari menyantap sahur saat bulan Ramadan.

Sedangkan komet Swan bisa diamati mulai dari tanggal 2-18 Mei 2020.

Fakta hujan meteor Eta Aquirids

Hujan meteor Eta Aquirids sendiri terjadi setahun sekali pada awal Mei. Sementara hujan meteor dari jejak Komet Halley juga bisa disaksikan pada bulan Oktober yang dikenal dengan hujan meteor Orionid.

Padahal Komet Halley melintas setiap 76 tahun sekali, lantas mengapa masih bisa menyebabkan hujan meteor?Rhorom menjelaskan hujan meteor Eta Aquarids dan Orionid ini terjadi setiap lintasan Bumi ketika mengelilingi Matahari, masuk ke lintasan Komet Halley.

"Komet Halley memang melintas setiap 76 tahun sekali. Saat melintas, komet yg berisikan es dan debu mengalami evaporasi. Serpihan2 kecil dari komet ini tertinggal (seperti jejak) di sepanjang lintasannya. Dapat dibayangkan seperti remah roti yg tertinggal ketika rotinya dimakan sambil jalan," tuturnya.

"Nah, ketika Bumi melintas dekat komet, kita bakal memasuki aliran debu serpihan komet tadi. Hasilnya, banyak debu yg masuk ke atmosfer dan terlihat sebagai hujan meteor," lanjutnya.

Lebih lanjut, menurut Rhorom serpihan komet tadi tidak diam, tapi juga mengorbit mengitari Matahari. Sehingga jejak debu dari Komet Halley ini ada di luar angkasa seperti aliran debu.

"Maka, ada kalanya kita ketemu lebih banyak debu (meteor 'storm'), adakalanya ketemu lebih sedikit debu sehingga intensitas hujan meteor lebih rendah," paparnya lagi.

Fakta Komet Halley

Melansir Space, Komet Halley adalah komet paling terkenal karena merupakan komet "periodik". Komet Halley membutuhkan waktu kembali ke bumi stelah mengorbit matahari sekitar 75-76 tahun, sehingga memungkinkan manusia untuk melihatnya dua kali dalam hidupnya.

Komet Halley terakhir kali terlihat pada tahun 1986 dan diproyeksikan untuk kembali pada tahun 2061. Komet itu dinamai setelah astronom Inggris Edmond Halley.

Komet Halley dikabarkan akan terlihat lebih terang ketika Halley melintasi Bumi pada tahun 2061. Sebab, komet itu akan berada di sisi matahari yang sama dengan Bumi.

Astronom memperkirakan Komet Halley tahun 2061 bisa memiliki kecerahan -0,3 magnitude . Namun, keterangan itu jauh di bawah bintang paling terang di langit bumi, yakni Sirius, dengan magnitudo -1,4 ketika terlihat dari Bumi.

Dua pesawat luar angkasa gabungan Soviet dan Prancis, yakni Vega 1 dan 2 berhasil terbang di dekat Komet Halley. Salah satu dari pesawat itu diketahui berhasil menangkap gambar jantung atau inti komet untuk pertama kalinya.

Pesawat antariksa milik Badan Antariksa Eropa, Giotto bahkan mendekati nukleus dan mengirimkan gambar spektakuler ke Bumi. Jepang mengirim dua probe sendiri, yakni Sakigake dan Suisei yang juga memperoleh informasi tentang Halley.

Selain itu, NASA's International Cometary Explorer yang sudah ada di orbit sejak 1978 menangkap gambar Komet Halley dari jarak 17,3 juta mil (28 juta kilometer).

Fakta Komet Swan

Komet Swan diketahui ditemukan astronom amatir Michael Mattiazzo setelah melihat data dari Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) NASA pada 11 April 2020.

Simulasi menunjukkan bahwa Komet SWAN bepergian mengelilingi matahari dalam periode sekitar 25 juta tahun. Itu artinya bahwa terakhir kali komet menyapu tata surya bagian dalam mungkin pada Zaman Oligosen, ketika Paraceratherium, genus badak tak bertanduk dan salah satu mamalia darat terbesar berjalan di Bumi.

Komet SWAN hanya dapat diakses oleh mereka yang berada di selatan khatulistiwa. Saat ini komet terletak di konstelasi samar Sculptor, tidak jauh dari bintang magnitudo pertama Fomalhaut.

Pada 16 April, komet bersinar dengan magnitudo +7,8, sehingga cukup mudah untuk diamati oleh teropong.

Komet Swan diprediksi akan berevolusi menjadi objek yang cerah. Komet Swan diduga merupakan komet yang relatif kecil. Komet itu akan melewati Bumi dengan jarak paling dekat 51,8 juta mil (83,3 juta km) pada 12 Mei 2020. Sedangkan, titik terdekatnya dengan matahari, disebut perihelion pada 27 Mei dan berada sejauh 40 juta mil (64,4) juta km) dari bintang Bumi. (jps/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER