Alat tes cepat (rapid-test) menggunakan sampel darah atau serologi ini menurut Badan Obat dan Makanan AS (FDA) dan Uni Eropa mampu melacak spesifik virus corona SARS-CoV-2 dengan akurasi 99,8 persen dan tingkat sensitivitas 100 persen.
Alat tes ini tidak terkecoh dengan antibodi virus corona lain yang sama-sama menimbulkan gejala flu. Sebab, virus corona memiliki banyak varian. Namun virus corona terbaru yang menimbulkan penyakit Covid-19 adalah varian SARS-CoV-2.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antibodi terbentuk saat tubuh terserang infeksi penyakit yang bersumber dari bakteri, jamur, virus, dan parasit (bisa juga disebut antigen).
Bahkan ke depannya dapat memprediksikan seberapa kebal mantan pasien yang sempat terjangkit virus corona supaya tidak terserang kembali.
"Ini (antibodi buatan Roche) adalah perkembangan yang sangat positif karena tes antibodi yang sangat spesifik merupakan penanda yang sangat andal. Pada gilirannya nanti juga dapat mengindikasikan kekebalan tubuh pasien yang pernah terinfeksi virus corona," kata dia seperti dikutip Sky News.
Petugas Dinas Kesehatan menata perangkat tes cepat COVID-19 milik para atlet di Kantor KONI, Malang, Jawa Timur, Selasa (12/5/2020). Rapid test untuk mengecek antibodi kerap dikeluhkan punya akurasi rendah lantaran kerap salah mendeteksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 dengan virus corona tipe lain (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto /foc). |
Roche menyebu hasil tes antibodi bisa keluar dalam 18 menit untuk satu tes tunggal dan dalam satu jam bisa memproses 300 tes.
"Roche sangat berkomitmen untuk mendukung respons global terhadap pandemi Covid-19. Ketepatan waktu dan akses cepat ke tes yang andal serta berkualitas tinggi sangat penting untuk sistem perawatan kesehatan," kata CEO Roche Diagnostics, Thomas Schinecker seperti dikutip The Gurdian.
"Tes antibodi adalah langkah penting berikutnya dalam perang melawan Covid-19 dan uji antibodi Roche dapat dengan cepat ditingkatkan serta tersedia secara luas karena lebih dari 40 ribu instrumen kami sudah digunakan di banyak laboratorium di seluruh dunia," pungkas Schinecker.
Namun, sebelumnya para peneliti dan tenaga medis mengeluh tentang rendahnya akurasi alat tes ini. Sebab, alat tes terdahulu juga kerap mengidentifikasi antibodi dari virus corona tipe lain.
Sehingga menghasilkan identifikasi positif palsu (false positive). Sehingga, orang tersebut dianggap positif Covid-19, padahal alat tes mengidentifikasi varian virus corona yang berbeda.
Tes antibodi yang akurat bisa mengidentifikasi jika seseorang pernah terinfeksi Covid-19 dan berhasil sembuh. Bahkan jika mereka tak menunjukkan gejala pernah sakit akibat virus tersebut.
Jika tes ini bisa dilakukan secara masif, maka para peneliti bisa mendapat angka pasti berapa jumlah orang yang terinfeksi corona dan berapa luas persebarannya. (din/eks)
Petugas Dinas Kesehatan menata perangkat tes cepat COVID-19 milik para atlet di Kantor KONI, Malang, Jawa Timur, Selasa (12/5/2020). Rapid test untuk mengecek antibodi kerap dikeluhkan punya akurasi rendah lantaran kerap salah mendeteksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 dengan virus corona tipe lain (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto /foc).