BPPT Hadirkan 5 Alkes Buatan Lokal untuk Tangani Covid-19

BPPT, CNN Indonesia | Kamis, 21/05/2020 19:31 WIB
Kepala BPPT Hammam Riza di Kantor BPPT, Jakarta, Selasa (17/03/2020). Kepala BPPT Hammam Riza. (Foto: BPPT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memimpin sinergi kelembagaan bernama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19. TFRIC-19 telah berakselerasi dalam mengembangkan sejumlah produk inovasi alat kesehatan yang diluncurkan pada Rabu (20/5) oleh Presiden Joko Widodo.

Lima produk tersebut di antaranya adalah RDT Kit, PCR Test Kit, Artificial Intelligences untuk deteksi Covid-19, Mobile Lab Bio Safety Lab lvl.2, dan Emergency Ventilator yang merupakan Pengembangan BPPT bersama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19.

Kepala BBPT Hammam Riza mengatakan, TFRIC-19 merupakan model ekosistem inovasi yang lahir karena dorongan 'kebutuhan', serta rasa kebersamaan untuk berbuat sesuatu yang sangat kuat. Ia menegaskan bahwa ekosistem inovasi itu harus diteruskan dan dikuatkan, serta inovasi teknologi untuk substitusi impor dan ketahanan nasional agar menjadi prioritas, termasuk upaya mendorong tumbuhnya industri hulu dan industri antara.
"Covid-19 telah "membangunkan" kita semua, telah "menyadarkan" kita semua, bahwa kesiapan dan ketahanan nasional kita, khususnya dalam menangani penyakit menular, perlu mendapatkan perhatian serius. Ketergantungan pada bahan, alat dan produk impor lainnya sangat tinggi. Kita seolah tidak berdaya," katanya di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu (20/5).


Hammam melanjutkan, "Kita sangat merasakan bangunan industri nasional kita belum kuat. Industri hulu dan industri antara yang menopang industri manufaktur kita, belum tumbuh, belum berkembang. Semoga kondisi ini menjadi pembelajaran nasional yang baik dan harus kita sikapi dengan positif." 

Ekosistem inovasi yang dibangun dalam TFRIC-19, kata Hammam, adalah sinergi dan kerja bersama antara 11 lembaga litbang, 18 perguruan tinggi, 11 asosiasi dan komunitas, tiga rumah sakit, dua industri, dan enam start up.

Pengembangan alat kesehatan PCR test kit disebut sempat mengalami kendala, yakni terkait bahan reagen yang sampai saat ini masih harus impor. Namun, PCR test kit akan rampung didistribusikan ke rumah sakit serta laboratorium yang menguji spesimen Covid-19 pada awal Mei ini.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa karya inovasi anak bangsa ini sangat dibutuhkan kala pandemi.

"Kita mampu hasilkan karya-karya yang sangat dibutuhkan. Saya lihat sendiri, ada rapid test yang waktu saya tanya produksi berapa, sudah kira-kira 100 ribu (unit). PCR test kit sama, apakah sudah produksi, sudah, apakah sudah uji, sudah 100 ribu (unit). Kemudian ada emergency ventilator yang ini kemarin saya lihat ada karya BPPT, ITB, UI, UGM, PT Dharma, PT Poly Jaya, yang mulai dan ini tinggal produksinya," kata Presiden.

Hammam menambahkan, konsorsium tersebut adalah wujud nyata kolaborasi quadruple helix atau yang dikenal sebagai kolaborasi ABGC. Hal ini dilengkapi dengan dukungan East Ventures dalam menghimpun dana, serta gerakan Indonesia Pasti Bisa.

"Persembahan BPPT untuk menanggulangi Covid-19 adalah membangun ekosistem inovasi teknologi dengan cepat, agar produk kesehatan dihasilkan secara mandiri," ujar Hammam. (rea)