Penjelasan LIPI soal Sinar UV yang Disebut Tito Bunuh Corona

CNN Indonesia | Rabu, 20/05/2020 16:49 WIB
Mendagri Tito Karnavian memberikan keteranagan di Kementrian Dalam Negeri. Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019. CNNIndonesia/Adhi Wicaksono. LIPI respons Mendagri Tito Karnavian soal Sinar UV dan Corona. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 bisa mati dengan paparan gelombang ultraviolet (UV). Tito mengatakan hal tersebut ia ketahui dari penelitian di China dan Kepala Research and Development Homeland Security Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sempat mengatakan sinar ultraviolet-C (UVC) tidak menjamin bisa membunuh virus corona (SARS-CoV-C).

Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian Kimia LIPI, Akhmad Darmawan mengatakan UVC belum tentu bisa membunuh virus corona dan virus lainnya. UVC memang bisa digunakan untuk membunuh bakteri, bukan virus. Ia mengatakan mengatakan virus dan bakteri merupakan dua organisme yang berbeda.


"Kalau sinar UVC itu tidak jamin bisa bunuh virus tapi bisa bunuh bakteri. Kalau bisa bunuh virus itu studinya belum banyak lampu UV itu tidak bisa jamin bisa bunuh virus," kata Akhmad saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu (20/3).

Akhmad bahkan mengatakan belum ada penelitian yang menjamin bahwa sinar UVC bisa menginaktivasi atau membunuh bakteri.

Dihubungi terpisah, Peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Ratih Asmana Ningrum mengatakan ada penelitian yang menunjukkan tipe corona SARS-CoV sebelumnya mati terkena paparan sinar UV.

"Memang pada penelitian dengan tipe corona sebelumnya SARS-CoV, paparan 60 menit sinar UV diklaim bisa menginaktivasi virus," kata Ratih.

Di sisi lain, Peneliti bidang mikrobiologi LIPI Sugiyono Saputra menjelaskan UVC mengatakan salah satu metode desinfeksi untuk udara dan air. UVC bisa menginaktifkan lebih dari 95 persen aerosol H1N1 virus influenza.

Efektivitas  UVC membunuh bakteri dan virus tergantung durasi paparan, intensitas dan panjang gelombang sinar UVC.

"Ada pula yang menyatakan berbagai jenis virus lain dan bakteri juga bisa diinaktifkan dengan UVC, dengan menghancurkan material genetiknya DNA atau RNA sehingga mereka [virus dan bakteri] tidak bereplikasi," kata Sugiyono.

Terpisah, pendiri Surgika Alkesindo (SA) yang mendistribusikan robot UVC, Handy Gunawan mengatakan inar ultraviolet gelombang pendek (UVC) untuk membunuh atau menonaktifkan mikro organisme dengan menghancurkan nucleic acids dan mengganggu DNA.

"Sehingga menyebabkan mereka tidak dapat melakukan fungsi selular yang vital," tutur Handy.

Berkaitan dengan pandemi Covid-19, yang disebabkan strain terbaru virus SARS- CoV, SARS-CoV-2, sebuah studi yang diterbitkan pada Journal of Virological Methods 121 (2004) 85 - 91 menyimpulkan bahwa penggunaan UVC selama 15 menit membuat virus SARS sepenuhnya non aktif.

Musim panas tekan penyebaran virus SARS-Cov-2

Tito berkesimpulan sinar UV ini yang menyebabkan kasus corona meledak di sejumlah negara di belahan utara, seperti China, Italia, Jerman, dan Amerika Serikat. Dia bilang negara-negara itu sedang menjalani musim dingin saat corona pertama kali merebak.

Mantan Kapolri tersebut berkata Indonesia beruntung karena disinari matahari sepanjang hari. Sebagai informasi, salah satu sumber sinar UV adalah Matahari.

Penyebaran Covid-19 yang didasari oleh musim dingin juga sempat disinggung oleh LIPI. Sugiyono menyatakan temperatur atau suhu dan kelembaban udara dapat mempengaruhi penyebaran virus corona SARS-CoV-2.

Menurutnya, analisis sebuah studi mengatakan ketahanan virus Covid-19 semakin berkurang dalam temperatur atau suhu panas dan kelembaban tinggi.
 
"Memang ada beberapa studi yang menyatakan bahwa temperatur dan kelembaban udara dapat mempengaruhi penyebaran Covid-19. Pernyataan tersebut merupakan hasil analisis dari jumlah penderita Covid-19 di berbagai negara yang dikaitkan dengan kondisi lingkungan setempat," ujar Sugiyono kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/4).

Sugiyono menuturkan secara umum kasus Covid-19 saat ini terkonsentrasi di belahan bumi utara yang sedang mengalami musim dingin dengan temperatur di bawah 18 derajat celcius dan kelembaban kurang dari dari 9 g/m3.



(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]