LAPAN Ungkap Soal Kutub Bumi Sempat Terbalik

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 10:29 WIB
Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan exoplanet yang mengorbit di satu bintang tunggal seperti di tata surya tempat manusia hidup. Planet berbatu tersebut dapat mendukung keberadaan air cair dan NASA mengatakan planet ini sangat mirip dengan Bumi. Ilustrasi (Screenshot via web Nasa.Gov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menjelaskan kutub utara dan selatan Bumi sempat terbalik tiga kali dalam 100 juta tahun terakhir.

Pembalikan kutub terakhir terjadi sekitar 780.000 tahun yang lalu. Fenomena tersebut dikenal sebagai Brunhes-Matuyama Reversal.

Namun, hingga saat ini peneliti masih dilakukan kajian mendalam soal penyebab terjadinya pembalikan orientasi kutub itu, seperti diungkap Fitri Nuraeni dari Pusat Sains Antariksa LAPAN.


Sebagian peneliti yang menduga bahwa peristiwa itu dikaitkan dengan konveksi yang berada di batas mantel dan inti Bumi yang membangkitkan medan magnet induksi.

Hal ini terekam dalam studi paleomagnetisme. Para ahli geologi meneliti jejak magnet masa lalu yang terekam dalam batuan sedimen dan menemukan ada pola pembalikan kutub magnet, yang dikenal dengan sebutan magnetic reversal.

Data medan magnet ini diambil dari daerah pemekaran lantai samudra memverifikasi adanya perubahan arah dominan medan magnet bumi di masa lampau.

Tak membahayakan


Lebih lanjut, Fitri menyebut terbaliknya kutub Bumi tidak akan menghilangkan kekuatan gravitasi planet ini. Sebab, menurutnya banyak kalangan yang khawatir fenomena melemahnya medan magnet Bumi dan terbaliknya Kutub Utara dan Selatan, dapat membahayakan kesehatan maupun teknologi.

Sebelumnya, Ilmuwan dari Europan Space Agency (ESA) memberikan hipotesis soal pelemahan misterius medan magnet Bumi yang disebut menjadi tanda bakal terbaliknya medan magnet dari Kutub Utara dan Selatan. 

"Ketika terjadi pembalikan orientasi medan magnet Bumi, medan magnet tidak menghilang sesuai flux preservation theorem oleh Ned Benton," jelas Fitri seperti tertulis dari situs LAPAN, Senin (1/6). 

Istilah flux preservation theorem sendiri dicetus oleh Ned Benton. Ia adalah seorang peneliti geomagnetisme yang mempelajari perubahan makin bekrangnya kekuatan medan magnet Bumi hingga mencapai nol dalam 4.000 tahun.

Teori yang ia buat itu jelas menyatakan bahwa fluks tidak akan meninggalkan permukaan inti dari medan magnet karena memiliki konduktivitas listrik yang sangat tinggi, seperti dilansir laman NASA.

Kutub sempat terbalik
Reindeers in natural environment, Tromso region, Northern Norway.Ilustrasi. Berdasarkan penelitian ahli, kutub Bumi sempat terbalik tiga kali dalam 100 juta tahun terakhir. (Istockphoto/Dmitry_Chulov)



Medan magnet Bumi
Ilustrasi KompasArah kompas dipengaruhi oleh medan magnet Bumi. (josuemei72/Pixabay)

Lebih lanjut Fitri menjelaskan medan magnet Bumi bukan berupa medan magnet dengan dua kutub yang sederhana seperti kerap dilihat pada magnet yang ada di alam. Tapi, medan magnet Bumi jauh lebih rumit.

Fitri menegaskan bahwa medan magnet Bumi bersifat fluktuatif. Sebab, medan magnet yang terukur di permukaan Bumi merupakan akumulasi dari medan magnet internal dan eksternal yang berasal dari medan magnet Matahari.

Menurutnya, medan magnet Bumi dibangkitkan oleh suatu mekanisme yang disebut self-exciting dynamo. Kata Fitri, inti Bumi tersusun dari bahan konduktif yaitu besi yang memiliki sifat sebagai konduktor.

Maka saat Bumi berotasi, ia bekerja sebagai dinamo yang mengkonversi energi mekanik menjadi arus listrik dan medan magnet.

"Medan magnet yang dibangkitkan oleh proses dinamo pada inti Bumi inilah yang kemudian disebut sebagai medan magnet utama yang mengalami perubahan dalam skala jutaan tahun. Selain medan magnet utama, medan magnet Bumi juga memiliki medan magnet sekular yang terjadi karena adanya konveksi pada mantel Bumi," jelasnya.

Pelindung Bumi

Selain sebagai daya gravitasi, medan magnet Bumi juga berfungsi sebagai perlindungan ekstra untuk menahan radiasi dan partikel berenergi dari Matahari.

"Meskipun begitu, tentu saja sistem teknologi kita saat ini yang sudah banyak berbasis satelit perlu menyiapkan mitigasi untuk menjaga keberlangsungan sistemnya," kata dia.

Ketika medan magnet melemah apakah akan melemahkan fungsi perlindungan ini?

Ada salah satu hasil penelitian menggunakan simulasi komputer yang menunjukkan bahwa medan magnet yang dibangkitkan oleh aksi dinamo di inti luar adalah kebalikan dari medan magnet inti dalam.

Oleh karena itu, medan yang dibangkitkan oleh inti luar cenderung membalikkan dirinya namun dapat distabilkan oleh medan magnet inti dalam.

Tetapi kadang-kadang medan magnet yang dibangkitkan di inti luar itu berhasil diredakan bidang inti dalam yang cukup untuk membalikkan polaritasnya. (din/eks)

[Gambas:Video CNN]


BACA JUGA