Ilmuwan Deteksi Tabrakan 2 Lubang Hitam yang Jarang Terjadi

CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 11:33 WIB
This image released Wednesday, April 10, 2019, by Event Horizon Telescope shows a black hole. Scientists revealed the first image ever made of a black hole after assembling data gathered by a network of radio telescopes around the world. (Event Horizon Telescope Collaboration/Maunakea Observatories via AP) Ilustrasi. (Foto: Event Horizon Telescope Collaboration/Maunakea Observatories via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Observatorium Zwicky Transient Facility (ZTF) menangkap sinyal cahaya dari dua lubang hitam atau black hole yang bertabrakan pada 21 Mei 2019 dan bergabung jadi satu.

Penggabungan itu terdeteksi oleh dua detektor gelombang gravitasi yaitu Laser Interferometer Gravatorational Wave Observatory (LIGO) dan Detektor Virgo Eropa dari National Science Foundation, GW190521g.

Menurut salah satu ilmuwan dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Daniel Stern, fenomena tersebut jarang sekali terlihat dan membuat lingkungan baru yang tak sengaja mereka buat.


"Deteksi ini sangat menarik. Ada banyak yang bisa kita pelajari tentang dua lubang hitam yang menyatu dan lingkungan tempat mereka berada berdasarkan sinyal ini, yang secara tidak sengaja mereka buat," kata Stern dikutip Space dari laman resmi JPL NASA.

Oleh sebab itu Stern menganggap tabrakan dua lubang hitam itu terkesan 'aneh'. Setelah saling bertabrakan, keduanya terkunci di pusaran accretion disk.

Berdasarkan pasangan gelombang gravitasi dan cahaya, suar muncul dari dua lubang hitam kecil yang bergabung dalam piringan akresi lubang hitam supermasif.

Sebab gravitasi lubang hitam supermasif itu sangat kuat dan dapat mempengaruhi benda-benda kecil di sekitarnya.

"Benda-benda ini berkerumun seperti kawanan lebah. Mereka secara singkat dapat menemukan pasangan gravitasi dan berpasangan tetapi biasanya mereka juga akan menghilang dari pasangannya dengan cepat," kata ilmuwan lain dari Universitas The City University of New York Graduate Center, Saavik Ford.

"Dalam cakram lubang hitam super masif, gas yang mengalir mengubah lubang mosh dari kawanan minuet klasik sehingga mereka bisa berpasangan," lanjut Ford.

Meski begitu kilatan cahaya bukan berasal dari penggabungan dua lubang hitam tetapi melalui gas yang mengelilingi mereka.

Gas itu menghasilkan suar (bentuk piroteknik yang menghasilkan cahaya yang sangat terang). Dalam kasus ini, ilmuwan berhasil mendeteksi suar setelah 34 hari sinyal gelombang gravitasi muncul.

"Suar terjadi pada skala waktu dan lokasi yang tepat. Kami menyimpulkan bahwa suar tersebut kemungkinan merupakan hasil merger lubang hitam tetapi kami tidak dapat sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan lain," tutur Ford.

(din/mik)

[Gambas:Video CNN]