Plastik Kotori Hewan yang Hidup Paling Terpencil di Bumi

CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 21:09 WIB
See other McMurdo Station and Antarctica images in my portfolio. View of McMurdo Station on Ross Island, in Antarctica. Ilustrasi Antartika. (Istockphoto/JeffDSamuels71)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti dikabarkan telah mendeteksi keberadaan sampah plastik atau mikroplastik di tubuh salah satu hewan yang hidup di salah satu wilayah terpencil dan terisolasi di Bumi, yakni Antartika. Peneliti menyebut temuan itu membuktikan bahwa plastik telah mempengaruhi rantai makanan di wilayah tersebut.

Dalam penelitian itu, para peneliti melakukan penelitian di Pulau King George yang berada di lepas pantai Antartika pada bulan Februari 2016. Penelitian yang diterbitkan di dalam jurnal Royal Society Biology Letters menemukan potongan besar busa polystyrene yang biasa digunakan untuk pengemasan barang dan keperluan lain.

Melansir Nature, peneliti menyebut busa polystyrene yang ditemukan dalam penelitian dalam kondisi ditutupi lumut, ganggang mikroskopis, dan makhluk berkaki enam dengan panjang satu milimeter yang dikenal sebagai Antarctic springtails (Cryptopygus antarcticus).


Dalam proses analisis, peneliti mengklaim menemukan fragmen polistiren kecil berukuran kurang dari 100 mikrometer di dalam usus hewan tersebut. Cryptopygus antarcticus sendiri diketahui hanya memiliki ukuran 0,1 hingga 0,2 sentimeter dengan berat hanya beberapa mikrogram.

Peneliti dari Universitass Siena Elisa Bergami dan rekannya menyebut hewan itu mencerna fragmen secara tidak sengaja ketika sedang memakan lumut yang ada di busa polystyrene.

Melansir CNN, para peneliti menggunakan spektroskopi inframerah di Elettra Sincrotrone Trieste untuk mendeteksi keberadaan mikroplastik di dalam tubuh Cryptopygus antarcticus.

Terkait dengan temuan itu, para penelliti menyebut mikroplastik dapat mengangkut patogen dan kontaminan yang berbahaya bagi hewan tersebut dan spesies lain dalam rantai makanan ekosistem.

Sehingga, mereka khawatir penemuan itu menimbulkan kekhawatiran untuk seluruh ekosistem di sana. Peneliti Universitas College Dublin, Tancredi Caruso berhadap ada penelitian lanjutan guna lebih memastikan dampak negatif dari mikroplastik terhadap ekosistem di Antartika.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]