BMKG Ungkap Wilayah Indonesia yang Sudah Masuk Musim Kemarau

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 21:21 WIB
Aktivitas warga di tengah aliran Kanal Banjir Barat yang surut di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.  Menghadapi musim kemarau yang terjadi saat ini, debit air di sekitar aliran Kanal Banjir Barat menyusut. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono Ilustrasi musim kemarau di Indonesia. (,CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menyampaikan analisis BMKG hingga 20 Juni 2020 menunjukkan hanya 48,8 persen wilayah Indonesia masih mengalami musim hujan.

"Analisis BMKG hingga 20 Juni 2020 menunjukkan bahwa 51,2 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau, sedangkan sisanya masih mengalami musim hujan," kata Herizal dalam keterangan tertulis dalam situs BMKG, Selasa (30/6).

Herizal menyampaikan wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi pesisir timur Aceh, bagian barat Sumatra Utara, pantai timur Riau-Jambi, pesisir utara Banten, Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah bagian utara dan timur, sebagian besar Jawa Timur, dan sebagian Bali.


Selanjutnya, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat bagian selatan, Pesisir selatan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara bagian utara, Pulau Buru, dan Papua Barat bagian timur.

Herizal menjelaskan musim kemarau ditandai oleh berkurangnya hari hujan dan rendahnya jumlah curah hujan yang terukur di permukaan. Sebagian besar wilayah di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Jawa Timur misalnya, telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut (deret hari kering) berkisar antara 20-60 hari.

"Sedangkan Sebagian besar wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian Utara telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut berkisar antara 10-30 hari," ujarnya.

Herizal berkata curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2020 berada pada kriteria 'rendah', yakni 0-50 mm/dasarian.

Curah hujan kriteria 'menengah', yakni 50-150 mm/dasarian terjadi di Aceh bagian selatan, Riau, Lampung bagian selatan, Jawa Tengah bagian barat, Kalimantan Barat bagian barat laut, dan Maluku Utara.

Sedangkan curah hujan kategori 'tinggi', yakni >150 mm/dasarian terjadi di Sulawesi Tengah bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian utara, Pulau Seram bagian barat, Papua Barat bagian barat dan Papua bagian tengah khususnya di sekitar Timika.

"Prediksi curah hujan pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2020 umumnya akan berada pada kisaran kriteria rendah (0-50 mm/dasarian) hingga menengah (50-150 mm/dasarian) di sebagian besar wilayah," ujar Herizal.

Lebih lanjut, Herizal menyampaikan hasil monitoring indikator anomali iklim Samudera Pasifik, yaitu suhu muka laut wilayah indikator ENSO (Nino 3.4) sampai dengan pertengahan Juni dalam kondisi Netral. Fluktuasi suhu muka laut tidak menyimpang lebih dari 0,5°C dari rata rata normal klimatologisnya.

Sebagian besar Lembaga Meteorologi dunia, kata dia memprediksi anomali suhu muka laut di Nino 3.4 sampai akhir tahun berkisar antara Netral dan La Nina Lemah. Kondisi La Nina lemah dinyatakan apabila penyimpangan suhu muka laut di wilayah indikator ENSO lebih dingin -0,5° s.d -1,0°C dari normal klimatologisnya.

"Apabila kondisi La Nina dapat terjadi, hal tersebut dapat menambah peluang peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga musim kemarau terkesan lebih basah karena lebih banyak hujan daripada kemarau biasanya," ujarnya.

Sementara itu, Herizal menyebut monitoring anomali iklim Samudera Hindia menunjukkan beda suhu muka laut Perairan timur Afrika dan sebelah barat Sumatera sebagai indikator Dipole Mode Samudera Hindia (IOD) bernilai positif (IOD+) pada pertengahan Juni. Kondisi IOD+ diprediksi akan kembali Netral pada Juli hingga November 2020.

Sedangkan monitoring terhadap kondisi suhu muka laut perairan Indonesia menunjukkan kondisi normal, dengan kisaran anomali suhu muka laut antara -0.5 s/d +2 derajat Celsius. Suhu muka laut yang hangat atau anomali positif terjadi di perairan timur Sumatera, perairan selatan Jawa, Laut Banda, dan perairan utara Papua.

"Dari berbagai kondisi tersebut diperkirakan akan menjadikan musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia akan cenderung basah, namun perlu tetap diwaspadai adanya potensi kekeringan di 30 persen wilayah Zona Musim (ZOM)," ujar Herizal.

Terkait perkembangan musim kemarau dan prospek curah hujan 6 bulan mendatang, serta tidak adanya ancaman potensi anomali iklim global yang signifikan, Herizal mengimbau mitra kerja BMKG dan juga masyarakat umum secara luas hendaknya dapat memanfaatkan informasi iklim itu untuk kewaspadaan atau untuk perencanaan jangka pendek.

"Untuk daerah yang masih mendapatkan curah hujan tinggi perlu mewaspadai potensi perkembangan nyamuk pembawa penyakit demam berdarah," ujarnya.

Lebih dari itu, dia mengimbau untuk daerah-daerah yang yang telah memasuki musim kemarau dengan deret hari kering yang cukup panjang, serta diprediksi dalam 2 hingga 4 bulan ke depan menerima hujan dengan intensitas rendah untuk melakukan langkah mitigasi.

Mitigasi itu antara lain budi daya pertanian yang tidak membutuhkan banyak air, melakukan gerakan hemat penggunaan air bersih, serta mewaspadai kebakaran hutan, lahan dan semak.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]