Ahli: Dinosaurus Punah Dihantam Asteroid, Bukan Gunung Berapi

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 18:07 WIB
3D rendering of a swarm of Meteorites or asteroides entering the Earth atmosphere. Ilustrasi asteroid hantam dinosaurus. (iStockphoto/ratpack223)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penelitian terbaru mengonfirmasi kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu disebabkan oleh asteroid raksasa, bukan akibat letusan gunung berapi.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan saling berdebat untuk menentukan penyebab peristiwa kepunahan massal 66 juta tahun yang lalu. Kala itu sekitar 75 persen dari semua kehidupan di Bumi lenyap, termasuk seluruh dinosaurus berukuran raksasa.

Beberapa orang berpikir bahwa aktivitas vulkanik merupakan penyebab kepunahan, tetapi studi baru memastikan bahwa tabrakan asteroid raksasa adalah penyebab utama kepunahan.


Peneliti telah mengetahui sejak lama bahwa tabrakan asteroid menciptakan kawah raksasa di Chicxulub yang terletak di tempat yang sekarang menjadi Semenanjung Yucatán di Meksiko.

Penyebab kepunahan menjadi pertanyaan karena adanya aktivitas gunung berapi yang terjadi di sekitar waktu bersamaan dengan tabrakan asteroid.

Dalam sebuah studi baru, para peneliti dari Imperial College London, University of Bristol dan University College London telah menunjukkan bahwa asteroid adalah penyebab utama kepunahan 75 persen kehidupan di Bumi.

Dampak asteroid secara signifikan mengganggu iklim dan ekosistem Bumi.

"Kami menunjukkan bahwa asteroid menyebabkan dampak musim dingin selama beberapa dekade, dan bahwa efek lingkungan ini menghancurkan lingkungan yang cocok untuk dinosaurus," ujar kepala penelitian Alessandro Chiarenza.

Dilansir dari Space, Chiarenza menjelaskan letusan gunung berapi yang kuat tidak cukup kuat untuk secara substansial mengganggu ekosistem global.

Ia menjelaskan tumbukan asteroid tersebut membuat Bumi menuju era Zaman Es. Sebab partikel asteroid menghalangi sinar matahari masuk ke Bumi.

"Penelitian  kami mengonfirmasi, untuk pertama kalinya secara kuantitatif, bahwa satu-satunya penjelasan yang masuk akal terkait kepunahan adalah dampak musim dingin yang membasmi habitat dinosaurus di seluruh dunia," ujar Chiarenza.

Dilansir dari USA Today, para peneliti membuat beberapa model iklim di Bumi akibat aktivitas vulkanik dan dampak asteroid.

Dalam model matematika ini, peneliti memasukkan faktor-faktor lingkungan termasuk curah hujan dan suhu, yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup.

Dengan model-model ini, tim penelitian bahwa asteroid raksasa yang menabrak Bumi akan melepaskan sejumlah besar gas dan partikel ke atmosfer Bumi.

Hal ini akan menghalangi matahari selama bertahun-tahun. Efek ini akan menciptakan semacam musim dingin permanen di Bumi yang  membuat planet tidak bisa dihuni.

Penelitian juga menghitung keberadaan gas dan partikel yang menghalangi sinar matahari dan karbon dioksida dari gas rumah kaca.

Aktivitas Vulkanik Pulihkan Kehidupan Bumi

Penelitian juga  menemukan bahwa aktivitas vulkanik memulihkan lingkungan Bumi untuk kembali mendukung kehidupan dari waktu ke waktu.

Penelitian menemukan gunung berapi melepaskan sejumlah besar karbon dioksida yang akan terbentuk di atmosfer dan menghangatkan planet Bumi secara perlahan. Hal ini membuat Bumi menjadi habitat yang mampu mendukung kehidupan.

Penelitian menyimpulkan musim dingin dahsyat akibat asteroid membunuh sebagian besar kehidupan di Bumi. Seiring berjalannya waktu, efek pemanasan yang diciptakan gas rumah kaca dari aktivitas vulkanik membantu Bumi mampu menopang kehidupan.

 Pemanasan yang disebabkan oleh gunung berapi ini membantu meningkatkan keberlangsungan hidup makhluk hidup yang punah akibat dampak asteroid. Aktivitas vulkanik membantu perkembangan spesies baru setelah tabrakan asteroid, termasuk burung dan mamalia.

"Kami memberikan bukti baru untuk menunjukkan bahwa letusan gunung berapi yang terjadi pada waktu yang sama mungkin telah mengurangi efek pada lingkungan yang disebabkan oleh asteroid. Terutama dalam mempercepat kenaikan suhu setelah dampak musim dingin, ujar Chiarenza.

Penelitian telah di peer-reviewed dan diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]