Pemblokiran Aplikasi TikTok dkk di India Disebut Langgar WTO

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 12:39 WIB
Aplikasi Tik Tok Ilustrasi TikTok. (Diolah dari Istockphoto/Bahadir Tanriover)
Jakarta, CNN Indonesia --

China menyatakan pemblokiran 59 aplikasi smartphone asal asal negaranya oleh India melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Pemerintah India memblokir 59 aplikasi asal China sebagai buntut konflik antara kedua negara di perbatasan Himalaya.

"Tindakan India, secara selektif dan diskriminatif bertujuan untuk aplikasi Cina tertentu dengan alasan yang ambigu dan dibuat-buat, bertentangan dengan persyaratan prosedur yang adil dan transparan, menyalahgunakan pengecualian keamanan nasional, & tersangka melanggar aturan WTO," kata juru bicara Kedutaan Besar China di India, Ji Rong.


Aplikasi China yang dilarang India termasuk aplikasi populer seperti TikTok, Bigo, Hago, hingga Mobile Legends. TikTok yang dimiliki oleh ByteDance dilaporkan telah diunduh sebanyak 600 juta kali di India.

Larangan telah diberlakukan berdasarkan Bagian 69A dari Undang-Undang Teknologi Informas dengan ketentuan yang relevan dari Peraturan Teknologi Informasi (Prosedur dan Perlindungan untuk Pemblokiran Akses Informasi oleh Publik), Peraturan 2009.

Pemerintah China mendorong agar India membuat lingkungan bisnis yang adil dan terbuka. China juga mengingatkan hubungan perdagangan dan ekonomi yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak.

Dilansir dari Livemint, Ji Rong menjelaskan larangan itu diskriminatif dan selektif. Rong juga mengatakan pemblokiran bertentangan dengan tren umum perdagangan internasional dan e-commerce.

Dilansir dari Gadgets 360, China mendesak agar pemblokiran dihentikan karena dianggap tidak kondusif untuk kepentingan konsumen dan persaingan pasar di India.

"Kami berharap India mengakui sifat saling menguntungkan dari kerja sama ekonomi dan perdagangan China-India, dan mendesak pihak India untuk mengubah praktik diskriminatifnya, mempertahankan momentum kerja sama ekonomi dan perdagangan China-India" ujar Rong.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]