LAPAN Respons Temuan Dinosaurus Punah Dihantam Asteroid

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 16:24 WIB
3D rendering of a dangerous large asteroid threatening to impact planet Earth. Ilustrasi asteroid hancurkan dinosaurus di bumi. (iStockphoto/ratpack223)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) merespons penelitian yang memastikan kepunahan dinosaurus akibat hantaman asteroid, bukan letusan gunung berapi.

Penelitian itu menunjukkan bahwa hantaman asteroid mengakibatkan efek 'impact winter' sehingga Bumi dilanda musim dingin panjang. Hal ini diakibatkan debu yang sangat tebal dari hantaman asteroid sehingga menutup masuknya cahaya Matahari.

Akibatnya hilangnya pemanasan Matahari mengakibatkan Bumi dilanda musim dingin panjang.


Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin teori kepunahan dinosaurus akibat 'impact winter' sudah ada sejak 1990-an silam. Teori tersebut berdasarkan keberadaan kawah raksasa di Semenanjung Yukatan, Meksiko yang disebabkan oleh hantaman asteroid.

"Teori impact winter yang saat ini ada bukti-bukti dan modelnya yang paling bisa menjelaskan kepunahan dinosaurus. Asteroid diperkirakan berdiameter 10 km membentuk kawah besar di Semenanjung Yukatan, Meksiko. Bekas kawah terbesar itu dikaitkan dengan tumbukan asteroid yang melontarkan debu sampai stratosfer," kata Thomas saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (2/7).

Thomas menjelaskan debu itu menyebar ke seluruh dunia dan cukup stabil bertahan lama di stratosfer. Dampaknya, cahaya matahari tertahan oleh debu tebal tersebut yang menyebabkan musim dingin sangat lama.

Musim dingin tersebut diperkirakan berlangsung selama belasan hingga puluhan tahun. Tanpa adanya sinar Matahari, banyak tumbuhan yang mati. Hal ini mengakibatkan sebuah reaksi berantai terhadap kepunahan dinosaurus.

"Tanpa sinar Matahari, tumbuhan banyak yang mati. Dinosaurus pemakan tumbuhan akan punah. Dinosaurus pemakan daging pun akan menyusul punah. Hanya beberapa spesies kecil yang bertahan hidup dan melanjutkan evolusi kehidupan selama puluhan juta tahun," tutur Thomas.

Dihubungi terpisah, peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto menjelaskan, peneliti di seluruh dunia telah sepakat ada dua bencana besar yang terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu, yaitu erupsi di India dan tabrakan asteroid di Meksiko.

Sekitar 400 ribu tahun sebelum asteroid datang, ada erupsi yang melepas gas beracun dan CO2 ke udara. Hal ini mengakibatkan pemanasan global hingga lima derajat celsius. Akan tetapi, ia meragukan hal ini bisa mengakibatkan kepunahan.

Kemudian asteroid menghantam Bumi dan mengakibatkan pendinginan global. Penelitian juga menemukan bahwa aktivitas vulkanik memulihkan lingkungan Bumi untuk kembali mendukung kehidupan dari waktu ke waktu.

Penelitian menemukan gunung berapi melepaskan sejumlah besar karbon dioksida yang akan terbentuk di atmosfer dan menghangatkan planet Bumi secara perlahan. Hal ini membuat Bumi kembali menjadi habitat yang mampu mendukung kehidupan.

"600 juta tahun kemudian, terjadi lagi erupsi di India yang turut dipicu oleh tabrakan asteroid yang dahsyat. Terjadi pemanasan global yang justru memicu merebaknya kehidupan di muka Bumi," tutur Rhorom.

"Kunci dari perdebatan apakah asteroid atau gunung api yang memunahkan dinosaurus adalah geochronology yang akurat," lanjutnya.

Asteroid Maut yang Musnahkan Dinosaurus

Thomas menjelaskan asteroid yang jatuh di semenanjung Yukatan itu ditaksir berukuran sekitar 10 kilometer dan memiliki berat 1triliun ton.

Hantaman asteroid menyebabkan terbentuknya kawah raksasa berdiameter 180 km atau hampir seluas provinsi Jawa Barat.

Thomas menjelaskan hantaman menyebabkan gelombang raksasa di laut Karibia, dan menghamburkan debu ke atmosfer. Asteroid langsung menembus bumi sehingga sisa-sisanya tidak tampak lagi.

"Energi ledakannya setara dengan ledakan 5 miliar bom atom Hiroshima. Debu yang dihamburkan ke atmosfer ditaksir sekitar 100 triliun ton berdasarkan ketebalan endapan debu bercampur Iridium di seluruh dunia," kata Thomas.

Ia menjelaskan logam Iridium menjadi kunci terungkapnya asteroid yang menjadi penyebab keberadaan kawah seluar 10 kilometer di semenanjung Yukatan.

"Adanya logam Iridium yang jarang terdapat di Bumi, tetapi melimpah pada asteroid menjadi kunci pembuka tabir rahasia bahwa benda langit yang jatuh adalah asteroid," ujar Thomas.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]