Kewalahan Akibat Iklan Diboikot, Facebook Bakal Audit

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 23:05 WIB
FILE - In this April 30, 2019, file photo, Facebook stickers are laid out on a table at F8, Facebook's developer conference in San Jose, Calif. U.S. Border Patrol agents are under fire for posting offensive messages in a “secret” Facebook group that included sexually explicit posts about U.S. Rep. Alexandria Ocasio-Cortez and comments questioning the authenticity of a photo of a drowned man and his young daughter. (AP Photo/Tony Avelar, File) Ilustrasi (AP Photo/Tony Avelar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Facebook setuju untuk melakukan audit terhadap kemampuan perusahaan itu mengendalikan peredaran ujaran kebencian usai gelombang boikot iklan oleh para pengiklan di perusahaan media sosial itu.

Hal ini dilakukan di tengah boikot iklan dari sejumlah perusahaan besar. Boikot dilakukan akibatFacebook dianggap gagal mengatasi peredaran konten ujaran kebencian dan hoaks. Namun, Facebook menyebut cakupan dan waktu audit masih dalam tahap finalisasi.


Langkah ini diambil Facebook setelah pengiklan besar seperti Unilever dan Starbuck telah ikut dalam kampanye 'Stop Hate For Profit'.

Kampanye ini dimulai oleh kelompok hak sipil di Amerika Serikat yang mendorong brand ternama untuk berhenti sementara beriklan di Facebook Ads.

Hal ini dilakukan untuk  mendorong Facebook untuk berbuat lebih banyak dalam penanganan konten ujaran kebencian.

Media Rating Council (MRC akan melakukan audit untuk mengevaluasi bagaimana cara melindungi pengiklan agar iklan mereka tidak muncul di tengah konten berbahaya seperti ujaran kebencian dan hoaks.

Dilansir dari Channel News Asia, selain Unilever dan Starbuck, Ford Motor Co dan Coca Cola adalah dua perusahaan dari sekian banyak perusahaan yang akan menghentikan sementara iklan di seluruh platform media sosial selama setidaknya 30 hari. 

Dilansir dari The Tech Portal, perusahaan-perusahaan memutuskan untuk menghentikan iklan di Facebook karena platform dianggap tidak efisien menangani ujaran kebencian dan hoaks.

Dalam beberapa minggu terakhir, Facebook menjadi bulan-bulanan protes terhadap ujaran kebencian di platform tersebut.

Namun, sepertinya Facebook pada akhirnya menuruti permintaan audit kontrol untuk mencegah kerugian lebih besar akibat hilangnya pendapatan dari Facebook Ads.

Ujaran kebencian terkait isu diskriminasi rasial telah menjadi topik besar di dunia pada bulan ini, termasuk diskriminasi terhadap kelompok LGBT.

Ketidakmampuan Facebook dalam penanganan ujaran kebencian, menimbulkan reaksi keras yang berujung pada boikot iklan.

Saham Facebook dan Twitter merosot lebih dari 8,3 persen. Sebab, selama ini komitmen Unilever memasang iklan di Facebook sangat tinggi.

Diperkirakan Unilever menggelontorkan US$42 juta (Rp606 miliar; kurs= Rp14.429,50) untuk beriklan ke media sosial besutan Mark Zuckerberg tersebut. Sementara Starbuck, menghabiskan sekitar US$94,8 juta (Rp1,3 triliun) untuk beriklan di Facebook pada tahun lalu.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]