Mutasi Baru Corona, Menyebar Lebih Cepat tapi Tak Berbahaya

Dini Nur Asih, CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2020 10:04 WIB
Abs COVID-19 antibody - 3d rendered image structure view on black background. 
Viral Infection concept. MERS-CoV, SARS-CoV, ТОРС, 2019-nCoV, Wuhan Coronavirus.
Antibody, Antigen, Vaccine concept. Ilustrasi. (Foto: iStockphoto/koto_feja)
Jakarta, CNN Indonesia --

Virus Corona SARS-CoV-2 yang menyebarkan penyakit Covid-19 kembali menarik perhatian para peneliti. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mutasi baru virus corona SARS-CoV-2 yaitu G614 dapat menyebar lebih cepat tetapi tidak tidak lebih berbahaya dari yang sebelumnya.

Hasil penelitian itu diuji dari sampel yang diambil dari pasien Covid-19 di Benua Eropa dan Amerika Serikat, lalu para ahli mengurutkan genom virus tersebut. Setelah genom diurutkan, peneliti membandingkannya dengan genom virus corona baru untuk dipetakan penyebarannya.

"Data pelacakan global kami menunjukkan bahwa varian G614 telah menyebar lebih cepat daripada D614," kata Ahli Biologi Bette Korber dari Los Alamos National Laboratory dikutip CNN, Jumat (3/7).


"Kami menafsirkan bahwa virus itu kemungkinan lebih menular. Menariknya, kami tidak menemukan bukti dampak G614 memperparah penyakit (Covid-19)," lanjutnya.

Lebih lanjut kata Korber, hipotesa G614 menyebar lebih cepat di saluran pernapasan bagian atas yaitu hidung, sinus, dan tenggorokan.

Lalu para peneliti melakukan tes kepada seribu pasien positif Covid-19 di Inggris yang terinfeksi mutasi virus versi baru tidak mengalami gejala yang lebih buruk, dibanding mereka yang terinfeksi virus 'asli'.

Untuk mengonfirmasi lebih lanjut, peneliti berulang kali melakukan pengetesan untuk memetakan bahwa memang betul mutasi virus G614 tidak memperparah kondisi pasien.

"Semua ahli sepakat bahwa bentuk G lebih menular daripada bentuk D. Kami sekarang memiliki bukti eksperimental yang mendukung," kata peneliti lain, David Montefiore dari Duke University.

Karena penyebaran virus lebih cepat, para peneliti mengatakan dibutuhkan upaya sistem kekebalan yang lebih tinggi untuk menetralkan mutasi itu.

Para peneliti menyebut mutasi ini mempengaruhi protein spike virus SARS-CoV-2. Sekarang para peneliti sedang meneliti apakah G614 dapat dikendalikan vaksin.

Untuk tahap awal, Mutasi G614 diklaim dapat dinetralkan dengan serum pemulihan yang diambil dari sampel darah enam pasien penyintas Covid-19 yang tinggal di San Diego, AS.

"Kami melihat bahwa kisaran antibodi dalam darah diri seseorang sama efektifnya dengan menetralkan virus baru maupun yang lama. Penemuan ini tentunya melegakan," tulis peneliti dari jurnal biorxiv.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, para peneliti perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat temuan mereka. Peneliti juga akan mengawasi mutasi virus corona yang lain.

"Bercermin dari hasil eksperimental ini, bukan berarti mutasi virus lain tidak berbahaya. Kita harus tetap waspada," kata Montefiore.

(din/mik)

[Gambas:Video CNN]