Tiga Inovasi Alat Tes Covid-19 Unpad dan ITB

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 09:53 WIB
Tim medis Puskesmas Kramat Jati mengambil sampel lendir saat tes swab pada ibu hamil di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Dahlia, Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 12 Juni 2020. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono Ilustrasi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bandung, CNN Indonesia --

Perguruan tinggi di Jawa Barat (Jabar) konsisten melahirkan inovasi dalam pengetesan virus corona (Covid-19). Salah satunya kolaborasi Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).


Ada tiga alat yang tengah dikembangkan oleh kedua kampus ini. Pertama, adalah alat rapid tes berupa antigen detection kit Covid-19 yang disebut Deteksi CePAD.

Berikut uraian ketiga alat inovasi ITB dan Unpad tersebut.


1. Alat tes cepat antigen

Sekretaris Pusat Riset Bioteknologi Molekular dan Bioinformatika Unpad Muhammad Yusuf mengatakan, alat rapid tes yang sedang dikembangkan ini berbeda dengan alat pada umumnya yang digunakan di Indonesia selama ini. Perbedaan Deteksi CePAD dengan rapid tes yang umum digunakan saat ini adalah molekul yang dideteksi.

"Deteksi antibodi itu mempunyai kelebihan, karena dia proses sampling relatif cepat, dan digunakan untuk mendeteksi penyakit sudah menyebar di mana saja. Tapi, ketika rapid test ini digunakan untuk bisa memprediksi atau ketika orang menunjukkan gejala sakit dengan antibodi biasanya akan nonreaktif, karena antibodi belum terbentuk. Sehingga, kami berpikir untuk melengkapi rapid tes dengan antigen," kata Yusuf dalam jumpa pers di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (25/6). 

Menurut Yusuf, rapid test ini bagus untuk menentukan penyakit sudah menyebar di mana saja dan jadi lebih cepat terprediksi.

Pihaknya pun sedang melakukan validasi untuk memastikan alat ini memang sesuai dan bisa digunakan secara maksimal dalam menentukan seseorang reaktif Covid-19 atau tidak. Validasi baru dilakukan selama sepekan dengan menggunakan 30 sampel.

Jumlah ini relatif masih sedikit sehingga Yusuf berharap sebulan ke depan bisa mendapat sampel validasi lebih banyak. Sehingga, tingkat akurasi alat antigen bisa diketahui.

"Kita sedang mencari sampel yang positif Covid-19. Mudah-mudahan bisa lebih dibantu karena sekarang sampel yang di Jabar agak susah," ujarnya.

2. Alat penyimpan sampel virus

Selain rapid tes, tim Unpad dan ITB juga menciptakan VitPAD-iceless Transport System. Alat Viral Transport Medium (VTM) ini berfungsi agar sampel virus tahan lama dan aman ketika disimpan dan ditransportasikan pada suhu ruang.

Anggota tim dari Fakultas Kedokteran Unpad dan Biokimia ITB, Hesti Lina mengatakan, alat ini lebih baik dari ice box karena sampel yang dibawa tidak harus berada di suhu dingin, tapi mampu berada di suhu ruangan.

Dengan demikian, lanjut Hesti, ketika ada sampel yang dibawa dari tempat jauh misal di pedesaan yang tidak memiilki ice box, bisa memakai alat ini.

"Ini memudahkan transportasi sampel dari pelosok ke laboratorium pemeriksaan," ujarnya.

Menurut Hesti, sampel yang ada di ruangan ini juga bisa tahan lebih lama yakni 10-15 hari. Harga produk ini pun dipastikan lebih murah sehingga terjangkau untuk fasilitas kesehatan memilikinya.

Hesti berharap alat ini juga bisa mempercepat pelacak masyarakat yang terpapar Covid-19 yang berada di daerah dan jauh dari perkotaan.

3. Alat ekstraksi sampel RNA

Kemudian, alat ketiga yang sedang dikembangkan alat GaneshPad kit.

Hesti menjelaskan, alat ini merupakan kit ekstraksi lokal yang sudah bisa memisahkan RNA sampel.  Melalui alat ini maka pengalihan sistem sentrifungsi ke sistem pemompaan vakum membuat proses ekstraksi RNA virus tidak lagi membutuhkan biaya cukup mahal.

Selain itu, kata dia, peningkatan ekstraksi dari 24 sampel bisa menjadi 96 sampel akan mempercepat tahapan PCR.

"Alat ini juga sedang dalam proses validasi dan mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera dirilis," ucap Hesti.

Hesti menyebut, selama ini mayoritas alat yang digunakan untuk melakukan pelacakan penyebaran Covid-19 menggunakan alat rapid dan swab mayoritas didatangkan dari luar negeri. Hesti berharap dengan adanya produk kesehatan ini maka pembelian barang secara impor bisa diminimalisir. 

"Hampir semua masih impor, makanya kami juga mendorong universitas lain untuk membuat berbagai macam alat termasuk VTM tadi," tutur Hesti.

(hyg/eks)

[Gambas:Video CNN]