Corona Terus Rekor, Ahli Sebut Belum Capai Puncak Gelombang 1

CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2020 11:40 WIB
Wali Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara Ali Ibrahim saat dirujuk ke Rumah Sakit Chasan Boesoirie (RSCB) Ternate. Ilustrasi (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman mengingatkan Indonesia belum mencapai puncak penularan virus corona gelombang satu meski angka positif Covid-19 terus capai rekor harian tertinggi.

Menurutnya, saat Indonesia mencapai kondisi rawan mencapai puncak gelombang penularan positif corona pada Juli hingga September.

"Jadi saat ini kita belum di puncak dan kemungkinan di antara Juli-September ini lah terjadinya puncak itu, khusus untuk Jawa dulu," ujarnya.


Kemarin (2/7), Penambahan kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia mencapai rekor harian tertinggi yakni 1.624 kasus. Angka ini menjadi penambahan tertinggi sejak kasus Covid-19 diumumkan pertama kali pada awal Maret lalu.

Terpisah, epidemiolog Univeristas Airlangga Windhu Purnomo menuturkan Indonesia belum mencapai puncak pandemi Covid-19.

Bahkan, dia mengaku tidak mengetahui puncak akan terjadi karena perkiraan yang semula diprediksi terjadi bulan Juni meleset. Perhitungan itu berdasarkan data penularan Covid-19 pada Mei.

"Karena banyak terjadi perubahan kebijakan pemerintah daerah yang mempengaruhi kedisiplinan warga dalam mematuhi protokol kesehatan yang mempengaruhi pola penularan," kata Windhu kepada CNNIndonesia.com.

Penyebab angka penularan capai rekor

Dicky menjelaskan rekor kasus baru merupakan akibat dari pertumbuhan Covid-19 yang secara eksponensial. Sehingga, dia mengatakan hukum eksponensial tetap berjalan meski masyarakat abai atau tidak.

Dicky menuturkan penurunan jumlah kasus Covid-19 hanya bisa dilakukan dengan intervensi yang sangat optimal. Namun, dia melihat masyarakat dan pemerintah belum maksimal dalam melakukan pengujuan, penelusuran, dan isolasi.

Terkait hal itu, Dicky menyarankan pemerintah melindungi tenaga kesehatan agar kasus Covid-19 tidak semakin besar dan membebani Rumah Sakit. Dia meminta seluruh tenaga kesehatan diperiksa, diisolasi jika positif, dan dibatasi jam kerjanya.

"Kemudian pelengkap Alat Pelindung Dirinya yang sesuai standar, jumlahnya juga cukup," ujar Dicky.

Sedangkan untuk masyarakat, Dicky mengimbau pemerintah melakukan edukasi secara masif. Selama ini, dia melihat edukassi masih minim dan masyarakat semakin menganggap remeh virus SARS-CoV-2.

"Kita hanya akan menunggu virus ini ketika akhirnya akan menimpa orang yang kondisinya rentan. Sehingga kematian dan kesakitan akan meningkat," ujar Dicky."Padahal virus ini tidak pernah lemah. Virus ini terus menyebar karena itulah kaidah hukumnya, disadari atau tidak, diyakini atau tidak, selama ada vaksin atau obat," ujarnya.

Dicky menambahkan pemerintah untuk terus meningkatkan cakupan pengujian Covid-19. Sebab, dia menyebut cakupan pengujian di Indonesia masih di atas 10 persen.

"Jadi harus terus ditingkatkan, apalagi beberapa daerah sepertinya menurun. Ini berbahaya sekali karena kita akan membiarkan orang pembawa virus menyebarkan virus ke mana-mana," ujarnya.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]