Laut Semakin Panas, 60 Persen Ikan Dunia Terancam Punah

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 06:31 WIB
Foto udara kondisi ikan-ikan yang mati di keramba jaring apung (KJA), Linggai, Danau Maninjau, Kab.Agam, Sumatera Barat, Jumat (7/2/2020). Data Pemkab Agam, kematian massal ikan keramba sebanyak 63 ton tersebut terjadi akibat angin kencang melanda daerah itu selama tiga hari terakhir, sehingga oksigen berkurang di dasar perairan, dan petani ikan mengalami kerugian mencapai Rp1,64 miliar. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/ama. Ilustrasi ikan punah. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/ama)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti menyatakan perubahan iklim akan membuat lautan terlalu panas bagi 60 persen spesies ikan. Peneliti mengatakan embrio dan pemijahan ikan dewasa tidak akan bertahan dalam kondisi laut yang panas.

Menurut para peneliti, jika suhu laut naik hingga 5 derajat Celcius, 60 persen spesies ikan di seluruh dunia tidak akan mampu hidup pada 2100. 

Merujuk kesepakatan perubahan iklim Paris tahun 2015, jika panas di laut alami kenaikan 1,5 derajat Celcius, 10 persen ikan tidak akan bertahan.


Melansir New Scientist, para peneliti menganalisis literatur ilmiah soal pengaruh panas pada 694 spesies spesies ikan air tawar dan laut. Tim memperhitungkan perbedaan antara ikan dewasa yang bertelur dan yang tidak bertelur, larva, dan embrio.

Pemijah dan embrio rata-rata bertahan pada suhu 7,2 derajat Celsius dan 8,4 derajat Celcius. Sedangkan ikan dewasa kisaran 27,5 derajat Celcius.

"Ikan sangat penting bagi nutrisi manusia, jadi penelitian ini menjadi bukti kuat untuk melindungi ekosistem dan lingkungan alami kita," kata Hans-Otto Pörtner di Alfred Wegener Institute Bremerhaven, Jerman.

Pörtner berkata embrio dan ikan yang bertelur memiliki kerentanan lebih tinggi. Alasannya, embrio dan petelur kurang toleran terhadap pemanasan laut adalah karena kebutuhan oksigen mereka yang lebih besar. Oksigen lebih mudah larut dalam air yang lebih dingin dan lebih sedikit pada yang lebih hangat.

Melansir Futurism, peneliti mengatakan tahun 2100 masih cukup jauh. Sehingga, upaya serius untuk membatasi perubahan iklim bisa bermanfaat untuk menyelamatkan spesies tersebut.

"Kita bisa membatasi perubahan itu jika kita berhasil menghentikan perubahan iklim," ujar Pörtner.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]