Klaim Tetap Untung Saat Corona, Samsung Buka-bukaan Soal Laba

CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 05:45 WIB
Samsung Electronics Indonesia resmi meluncurkan Samsung Galaxy Note9 bagi konsumen di Indonesia, Jakarta (24). Harga Smartphone Galaxy Note 9 ini dibandrol Rp 13,5 juta untuk memori 128GB/6 RAM, dan Rp 17.9 juta untuk memori 512GB/8 RAM. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) Ilustrasi (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Samsung Electronics menyatakan tetap untung meski dunia tengah dilanda pandemi Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2.

Samsung malah memprediksi laba operasional akan naik sebesar 23 persen pada kuartal kedua tahun 2020. Kenaikan laba ini disebut akibat peningkatan permintaan chip memori dan penjualan layar.

Sebagai perusahaan pembuat chip ponsel pintar dan memori terbesar di dunia, Samsung Electronic memperkirakan laba perusahaan akan menjadi 8,1 triliun won (US$6,8 miliar) pada periode April-Juni, naik dari 6,6 triliun won pada 2019.


Melansir AFP, Samsung diketahui menggabungkan kenaikan laba perusahaan dengan keuntungan yang dihasilkan dari divisi display. Namun, perusahana itu sama sekali tidak merinci hasil penjualan divisi tersebut.

Analis memperkirakan penjualan produk Samsung selama kuartal kedua akan turun 7,3 persen dari tahun sebelumnya.

Samsung diketahui telah memindah pusat data chip DRAM untuk memenuhi permintaan yang meningkat di Eropa dan Amerika Serikat selama pandemi.

Penjualan ponsel juga tampaknya telah meningkat dengan dicabutnya beberapa pembatasan di bagian lain dunia. Saham Samsung naik 0,4 persen pada awal perdagangan pada Selasa (7/7).

Kebijakan tetap di rumah dan pertumbuhan dalam pembelajaran online mendukung permintaan chip dan mendorong harga chip memori DRAM. 

Pemasok DRAM A.S. Micron Technology Inc memperkirakan pendapatan triwulan yang kuat bulan lalu.

"Permintaan chip lebih kuat dari yang diharapkan karena Covid-19," kata Park Sung-soon, seorang analis di Cape Investment & Securities.

Para analis juga mengatakan bisnis handset dan TV mungkin bernasib lebih baik dari yang diperkirakan. Pasalnya, biaya pemasaran yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

"Kerusakan akibat pandemi itu tidak separah yang diperkirakan pasar," kata CW Chung, kepala penelitian Nomura di Korea.

Namun, para analis memperingatkan bahwa kenaikan harga chip memori mungkin tidak berlanjut pada paruh kedua tahun ini.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]