Ahli Ungkap Alasan Indonesia Terus Sentuh Rekor Harian Corona

CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2020 17:16 WIB
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Lenteng Agung, Jakarta, Jumat (15/5/2020). Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya menyatakan dalam beberapa hari terakhir mulai terjadi peningkatan volume kendaraan yang diduga karena banyak perkantoran yang sudah tidak menerapkan work from home (WFH). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/pras. Ilustrasi (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli epidemiologi menyebut kasus positif Covid-19 akibat infeksi virus corona di Indonesia terus sentuh rekor pada Juli akibat pembukaan masa inkubasi.

Hal ini diungkap Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman menanggapi kasus positif corona dalam beberapa hari terakhir.

"Juli pas selesai inkubasi terpanjang sejak arus mudik dan pulang kampung lebaran para pemilik virus tidak bergejala," ujar Dicky kepada CNNIndonesia, Jumat (3/7).


Terkait dengan angka positif corona yang terus mencapai rekor dalam beberapa hari belakangan, menurutnya hal ini merupakan hukum yang akan terjadi meski masyarakat abai atau tidak.

Sehingga menurutnya, sepanjang Juli-September merupakan waktu penularan yang rawan di Indonesia. Ia pun memperkirakan puncak positif corona akan terjadi pada bulan-bulan tersebut.

Setelah penambahan penularan akibat arus mudik, periode Agustus-September menurutnya akan terjadi penularan dari pemudik terhadap kerabat dan komunitasnya.

Dicky menambahkan prediksinya soal masa rawan di Indonesia juga sejalan dengan pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Menurutnya, WHO menyebut kasus corona akan makin tinggi pada Juli 2020. Sehingga badan kesehatan dunia itu meminta negara untuk kembali melakukan penguncian wilayah.

Terpisah, epidemiolog Univeristas Airlangga Windhu Purnomo menuturkan Indonesia belum mencapai puncak pandemi Covid-19. Bahkan, dia mengaku tidak mengetahui puncak akan terjadi karena perkiraan yang semula diprediksi terjadi bulan Juni berdasarkan data Mei meleset.

"Karena banyak terjadi perubahan kebijakan pemerintah daerah yang mempengaruhi kedisiplinan warga dalam mematuhi protokol kesehatan yang mempengaruhi pola penularan," kata Windhu kepada CNNIndonesia.com.

Kewaspadaan menurun

Suasana Car Free Day (CFD) pertama DKI Jakarta di tengah pandemi virus corona, Minggu (21/6).Suasana Car Free Day (CFD) pertama DKI Jakarta di tengah pandemi virus corona, Minggu (21/6). (CNNIndonesia/Feybien Ramayanti)

Selain penularan dari warga yang mudik, penambahan penularan pada Agustus-September juga menurutnya bakal bertumbuh akibat menurunnya kewaspadaan.

"Selain itu, Agustus-September adalah dampak menurunnya kewaspadaan atau pencegahan Covid, baik di masyarakat maupun di program testing, tracing, dan isolated-nya," ujarnya.

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan pola serupa juga terjadi di pandemi 1918. Pada pandemi 1918, Dicky berkata masyarakat mulai bosan dan sebagian menganggap bahwa pandemi sudah berakhir atau virus sudah melemah setelah periode pemberlakuan karantina atau lockdown.

Sehingga mereka kembali ke kehidupan sebelumnya seolah tidak terjadi pandemi. Hal itu, lanjut Dicky persis terjadi juga saat pandemi Covid-19 saat ini di hampir semua negara, terutama yang memang tidak merapkan secara ketat sejak awal pengendalian pandemi.

"Sehingga seperti yang saat ini sedang terjadi di AS, peningkatan kasus kembali terjadi bahkan lebih hebat dan merata dibandingkan bulan-bulan sebelumnya," ujar Dicky.

Cara menurunkan kasus

Lebih lanjut, Dicky menuturkan penurunan jumlah kasus Covid-19 hanya bisa dilakukan dengan intervensi yang sangat optimal.

Namun, dia melihat masyarakat dan pemerintah belum maksimal dalam melakukan pengujian, penelusuran, dan isolasi.

Terkait hal itu, Dicky menyarankan pemerintah melindungi tenaga kesehatan agar kasus Covid-19 tidak semakin besar dan membebani Rumah Sakit. Dia meminta seluruh tenaga kesehatan diperiksa, diisolasi jika positif, dan dibatasi jam kerjanya.

"Kemudian pelengkap Alat Pelindung Dirinya yang sesuai standar, jumlahnya juga cukup," ujar Dicky.

Sedangkan untuk masyarakat, Dicky mengimbau pemerintah melakukan edukasi secara masif. Selama ini, dia melihat edukasi masih minim dan masyarakat semakin menganggap remeh virus SARS-CoV-2.

"Padahal virus ini tidak pernah lemah. Virus ini terus menyebar karena itulah kaidah hukumnya, disadari atau tidak, diyakini atau tidak," ujarnya.

"Kita hanya akan menunggu virus ini ketika akhirnya akan menimpa orang yang kondisinya rentan. Sehingga kematian dan kesakitan akan meningkat," ujar Dicky.

Dicky menambahkan pemerintah untuk terus meningkatkan cakupan pengujian Covid-19. Sebab, dia menyebut cakupan pengujian di Indonesia masih di bawah 10 persen.

"Jadi harus terus ditingkatkan, apalagi beberapa daerah sepertinya menurun. Ini berbahaya sekali karena kita akan membiarkan orang pembawa virus menyebarkan virus ke mana-mana," ujarnya.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]