BMKG Tanggapi Anies yang Sebut Langit Jakarta Biru Saat PSBB

CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 14:23 WIB
Pemandangan langit biru yang terlihat dari kawasan Bekasi Selatan, Jawa Barat, Selasa, 7 April 2020. CNN Indonesia/Safir Makki Ilustrasi langit biru Jakarta (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut terjadi penurunan polusi udara yang signifikan setelah beberapa pekan penerapan PSBB di DKI Jakarta akibat pandemi virus corona.

Hal ini berdasarkan pengukuran parameter PM10 (partikel debu polusi) dan gas NO2 (gas polutan). Namun BMKG belum memastikan penurunan polutan ini terkait berkurangnya kendaraan bermotor atau akibat penghentian kegiatan industri.

"Kami belum mengetahui secara pasti terkait atribusi penurunan signifikan polusi pada masa PSBB tersebut sebagai dampak langsung dari PSBB akibat pembatasan transportasi dan mobilitas sosial," kata Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, Siswanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (8/7).


"Atau ada faktor lain misal dari berhentinya industri," sambungnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta selama pandemi virus corona dinilai mulai membaik ditandai dengan langit Jakarta kembali berwarna biru berkat pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Menurut Siswanto, partikel debu PM10, fluktuasi konsentrasi paling rendah (kurang dari 50 mikrogram/meter kubik per hari) didapatkan selama dasarian tiga di bulan Mei atau 10 hari terakhir bulan Mei.

Namun saat ini konsentrasi debu polutan mengalami kenaikan di atas 50 mikrogram/meter kubik per hari hingga 100 mikrogram/meter kubik per hari, biasanya pada kondisi hari tanpa hujan.

Sementara untuk gas polutan NO2, pengurangan signifikan mencapai 150 persen pada bulan April dasarian tiga (tiga pekan setelah penerapan PSBB).

"Penurunan kandungan gas polusi NO2 di atas Jakarta tetap bertahan hingga pekan awal Juni 2020 dan kini sudah mengalami peningkatan kembali," tuturnya.

Sumber utama gas polusi NO2 di atmosfer berasal dari emisi buang kendaraan di jalan, pembangkit tenaga listrik, pabrik pemanas, dan proses industri.

Sedangkan PM10 terdiri dari aluminosilikat dan oksida lain dari unsur kerak dengan sumber utamanya dari partikel debu kecil yang berasal dari transportasi, industri, dan debu yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan di area sekitar.

Sumber artifisial debu lain berasal dari pembakaran, baik pembakaran batubara, minyak bumi, dan lain-lain yang dapat menghasilkan jelaga atau partikulat yang terdiri dari karbon dan zat lain yang melekat.

Siswanto juga membeberkan hasil pemantauan konsentrasi gas rumah kaca dalam hal ini pengukuran kadar gas CO2 di Kemayoran Jakarta.

Menurut data BMKG, konsentrasi CO2 sejak tanggal 1 Februari sampai 27 April 2020 terpantau mengalami penurunan dengan laju penurunan 0.2287 ppm/hari.

"Rata-rata konsentrasi CO2 saat WFH dan PSBB menurun sekitar 4.6 ppm atau 1,1 persen dari sebelum WFH dan PSBB," ujar Siswanto.

"Apabila dibandingkan dengan tahun 2019, pemberlakuan WFH dan PSBB telah menurunkan rata-rata konsentrasi CO2 sekitar 47 ppm atau 9,8 persen," pungkasnya.

Kebijakan PSBB diterapkan di Jakarta pertama ali pada 10 April 2020 selama 14 hari hingga 24 April 2020. DKI Jakarta adalah wilayah pertama yang menerapkan PSBB untuk menekan dan menanggulangi corona di Indonesia.

Kemudian, Anies memperpanjang PSBB selama 28 hari sampai 22 Mei 2020. PSBB diperpanjang karena kasus positif Covid-19 di Jakarta masih terus meningkat.

Ia kembali memperpanjang PSBB pada 19 Mei 2020 sampai 4 Juni. Setelah itu, Anies mulai menerapkan PSBB transisi sejak 5 Juni sampai 2 Juli. Kasus positif virus corona di Jakarta juga masih meningkat selama PSBB transisi.

(din/eks)

[Gambas:Video CNN]