UMKM dan Gig Worker Grab Topang Perekonomian Balikpapan

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 15:50 WIB
Mitra Merchant Grab di Balikpapan, Kalimantan Timur Pengamat menyebut bahwa gig worker melalui platform Grab telah meningkatkan kualitas hidup pekerja sektor informal di Balikpapan sebesar 14 persen. (Foto: Dok.Grab)
Jakarta, CNN Indonesia --

Selain sektor minyak dan gas, perekonomian Kota Balikpapan juga ditopang oleh UMKM dan pekerja sektor informal. Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics merilis studi yang dilakukan pada Januari 2020 di kota Balikpapan.

Riset ini menemukan bahwa gig economy atau fenomena pekerja lepas yang didukung oleh teknologi Grab telah memberi dampak bagi ketahanan ekonomi Balikpapan.

Ekonom Tenggara Strategics Stella Kusumawardhani menyebut benar bahwa sektor gig worker ini mengemban peran penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi Balikpapan.


"Riset juga menunjukkan bahwa gig worker melalui platform Grab telah meningkatkan kualitas hidup pekerja sektor informal di Balikpapan sebesar 14 persen. Para gig worker yang didukung oleh platform digital seperti Grab akan memiliki peran penting dalam mengembalikan perekonomian setelah wabah Covid-19 berakhir," katanya.

Stella melanjutkan, sebagai contoh, pihaknya menemukan bahwa GrabFood telah membantu merchant dalam mendirikan bisnis baru dan mempekerjakan lebih banyak karyawan saat bisnis mereka bertumbuh.

"Ini adalah faktor penting yang akan berkontribusi pada kemajuan ekonomi Balikpapan dalam jangka panjang," ujarnya.

Manfaat Digitalisasi

Sementara itu, mitra Grab Balikpapan yang disurvei menyatakan bahwa Grab tidak hanya menawarkan peluang ekonomi yang lebih baik bagi pekerja informal (yang merupakan 56,5 persen dari total tenaga kerja Indonesia), tetapi juga meningkatkan pertumbuhan bisnis kecil dan menciptakan lapangan pekerjaan di luar platform Grab.

Salah satu UMKM di Balikpapan yang telah merasakan manfaat dari digitalisasi adalah Pemilik Kedai Auss Kah Erwin Ansari. Bisnis minuman kekinian miliknya ini terbilang baru namun diakuinya cukup menantang karena dibuka saat pandemi.

"Saya Kedai Auss Kah ini terbilang cukup baru yaitu pada awal pandemi sekitar April 2020. Pada awal berdiri, saya hanya bisa mendapatkan penjualan tidak lebih dari Rp3,5 juta per harinya," ujarnya.

Erwin mengaku hanya berbekal pengetahuan meracik minuman dingin dari beberapa video yang dilihat di situs YouTube. Tapi pria 34 tahun itu punya tekad yang besar agar bisnisnya terus berkembang dan manfaatnya bisa dirasakan pula oleh orang lain.

"Banyak yang menyarankan untuk saya mendaftar sebagai merchant GrabFood dan kini penjualan saya meningkat hingga 110 persen setiap harinya. Saya juga kini dibantu oleh karyawan. Senang rasanya bisa membuka lapangan kerja bukan hanya buat diri sendiri, tapi juga untuk orang lain," ujarnya.

(fef)

[Gambas:Video CNN]