Deretan Riset Dunia Terkait Covid-19 Bisa Menular Lewat Udara

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 11:23 WIB
Flu virus spread caused by influenza with human symptoms of fever infecting the nose and throat as deadly microscopic microbe cells with 3d illustration elements. Ilustrasi penularan virus corona lewat udara atau airborne. (Istockphoto/wildpixel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan virus corona SARS-CoV-2 bisa menyebar lewat udara atau airborne. WHO menyebut penularan melalui udara sama berbahaya dengan penularan virus di permukaan benda yang terpapar.

Pengumuman itu keluar setelah dua ratusan peneliti yang mendesak WHO untuk membuat aturan baru tentang penularan Covid-19 lewat udara. Peneliti mengacu pada sejumlah penelitian yang menyebut virus tersebut dapat bertahan di udara.

Melansir Scientific American, Kamis (9/7), para ilmuwan Universitas Wuhan mengatakan SARS-CoV-2 memiliki potensi untuk ditularkan melalui aerosol berdasarkan penelitian yang dilakukan id dua rumah sakit di Wuhan, Hubei, China.


Sementara dalam penelitian yang diterbitkan di Nature, para ilmuwan itu mengaku menyelidiki sifat aerodinamis dari SARS-CoV-2 dengan mengukur viral load dalam aerosol.

Hasilnya, konsentrasi RNA SARS-CoV-2 dalam aerosol terdeteksi di ruang isolasi dan ruang pasien berventilasi sangat rendah, tetapi lebih tinggi di area toilet yang digunakan oleh pasien.

Sedangkan tingkat RNA SARS-CoV-2 di udara di sebagian besar area publik RS tidak terdeteksi, kecuali di dua area yang rawan berkerumun. Peningkatan itu diduga disebabkan oleh orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 berada kerumunan.

"Penelitian kami dan beberapa penelitian lain membuktikan keberadaan aerosol SARS-CoV-2 dan menyiratkan bahwa transmisi aerosol SARS-CoV-2 mungkin menjadi rute yang tidak dapat diabaikan dari operator yang terinfeksi ke seseorang di dekatnya," kata peneliti Universitas Wuhan, Ke Lan.

Aerosol adalah partikel padat atau cair dalam bentuk butiran sangat kecil sehingga bisa tertahan dalam partikel gas seperti udara, terutama di ruangan tertutup tanpa ventilasi yang baik.

Dalam studi pracetak yang dilakukan Universitas Kesehatan Nebraska juga menemukan bukti kontaminasi virus dalam sampel udara dan permukaan dari ruangan tempat pasien Covid-19 diisolasi

"Saya pikir ada banyak dari kita, termasuk saya sendiri yang merasa yakin bahwa rute penularan melalui udara sangat memungkinkan," ujar ahli patologi dan mikrobiologi Universitas Kesehatan Nebraska, Joshua Santarpia selaku penulis studi.

Sedangkan pada makalah yang terbit di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat tetap berada di aerosol sekitar tiga jam dan selama beberapa hari di berbagai permukaan. Namun, penelitian itu menyebut jumlah virus mengalami pengurangan secara signifikan.

Sebuah penelitian yang terbit di Prosiding National Academy of Sciences AS juga menyebut virus bisa menyebar ketika seseorang yang terinfeksi berbicara. Peneliti menggunakan laser hamburan cahaya untuk memvisualisasikan tetesan air liur kecil yang dikeluarkan selama pidato.

Peneliti mengasumsikan bahwa tetesan dari orang yang pidato selama satu menit mengandung tujuh juta partikel virus per mililiter atau satu menit pidato keras dapat menghasilkan lebih dari 1.000 tetesan yang mengandung virus yang dapat menggantung di udara selama delapan menit atau lebih.

"Ada kemungkinan besar bahwa berbicara normal menyebabkan penularan virus melalui udara di lingkungan terbatas," kata para peneliti.

Dugaan yang semakin menguatkan bahwa Covid-19 bisa menular lewat udara adalah ketika puluhan orang menghadiri latihan paduan suara di sebuah kota di AS. Kala itu, mereka tidak saling bersentuhan atau berdekatan satu sama lain.

(dal/DAL)

[Gambas:Video CNN]