Epidemiolog soal Rekor Corona DKI: Tes dan Lacak Belum Ideal

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 17:01 WIB
Tim medis Puskesmas Kramat Jati mengambil sampel lendir saat tes swab pada ibu hamil di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Dahlia, Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 12 Juni 2020. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono Ilustrasi tes virus corona DKI Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan rekor kasus baru penyakit virus corona Covid-19 di DKI Jakarta dalam kurun waktu beberapa hari belakangan akibat intervensi belum pada proporsi ideal. Dia mengatakan jumlah pengetesan, pelacakan, dan isolasi di Jakarta harus ditingkatkan.

"Apa yang terjadi di DKI membuktikan bahwa intervensi tes, lacak, dan isolasi belum pada proporsi ideal dibanding total penduduk DKI, walaupun sempat positive rate nya mendekati ideal," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/7).

Dicky menuturkan kerjasama antara Jakarta dengan daerah yang berbatasan dan otoritas transportasi darat, laut, dan udara harus ditingkatkan. Dia berkata program pelacakan dan protokol yang bersinergi penting untuk mengontrol pergerakan manusia.


Lebih lanjut, Dicky berkata pemerintah pusat dan daerah harus melakukan intervensi lebih masih, yakni dengan tes RT-PCR. Dia menyarankan pusat dan daerah meningkat dua kali lipat dari saat ini per hari atau di 40.000 per hari.

Selain itu, dia menyarankan pelacakan kasus mendekati 90 persen dari total kontak, serta 100 persen isolasi untuk bergejala dan tidak.

"Khusus untuk kapasitas tes lebih meratakan distribusi lab yang mampu tes dan utilitasnya. Terakhir adalah memberikan edukasi publik dengan strategi komunikasi risiko yang efektif dan tepat," ujarnya.

Di sisi lain, Dicky mengingatkan rekor kasus baru Covid-19 di Jakarta menunjukkan bahwa tidak ada satu daerah atau wilayah di Indonesia, bahkan dunia yang akan aman sampai pandemi berakhir.

Dia juga mengaku daerah-daerah lain yang memiliki cakupan pengetesan rendah dan kapasitas sistem kesehatan yang juga lemah akan mengalami peningkatan

"Karena apa yang terjadi di DKI dapat terjadi juga di daerah lain bila tidak segera merubah stratgei tetsing, tracing, serta isolasinya jadi lebih masif dan agresif," ujar Dicky.

Dicky juga mengimbau Pemprov DKI untuk membatalkan izin pembukaan tempat hiburan yang bersifat indoor. Sebab, dia menilai kebijakan itu sangat berbahaya dan tidak dianjurkan.

Sedangkan PSBB untuk kembali diterapkan di Jakarta, dia berkata tidak perlu. Dia justru menyarankan pembatasan sosial berskala lokal pada daerah yang prevalensinya tinggi sekali.

"Karena yang lebih penting adalah strategi utamanya, yakni tes, lacak, dan isolasi," ujarnya.

Sebelumnya, jumlah pasien positif Covid-19 di Jakarta mencapai 404 kasus pada Minggu (12/7). Gubernur DKI Anies Baswedan menyebut tambahan kasus harian itu merupakan yang tertinggi sejak pandemi corona melanda Ibu Kota.

Tercatat, penambahan 308 kasus baru juga terjadi pada Selasa (7/7), 293 kasus baru pada Rabu (8/7), dan 359 kasus baru pada Jumat (10/7).

Dengan angka-angka tersebut, total akumulasi kasus Covid-19 di DKI Jakarta per Minggu (12/7) mencapai 14.361 kasus, dengan 9.200 pasien dinyatakan sembuh dan 702 dilaporkan meninggal dunia.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]