Menristek: Butuh Riset Agar Rapid Test Covid-19 Tidak Impor

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 09:13 WIB
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menargetkan 50.000 perangkat uji (test kit) PCR diproduksi akhir Mei 2020 Ilustrasi Menristek Bambang. (ANTARA/Martha Herlinawati S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengharapkan adanya penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan teknologi ke depan yang bisa berfokus pada upaya menggantikan bahan impor dalam penanganan virus corona COVID-19 di Tanah Air.

"Masih tergantung impor salah satunya bahan 'rapid test' (tes cepat). Ada bahannya masih harus impor untuk antigen, ini bisa jadi salah satu penelitian bagaimana kita membuat bahan 'rapid test' dalam negeri," kata Bambang mengutip Antara.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menuturkan selain bahan antigen pada perangkat tes cepat, yang masih diimpor juga adalah reagen yang digunakan untuk tes polymerase chain reaction (PCR). Padahal saat ini pemeriksaan PCR selalu digunakan dalam menegakkan diagnosa Covid-19.


Reagen saat ini masih 100 persen dipesan dari luar negeri. Kebutuhan reagen juga akan selalu ada terutama dalam mendeteksi virus Corona penyebab Covid-19 dengan menggunakan metode PCR.

"Kami harapkan bapak, ibu peneliti mulai mencari cara dan menghasilkan inovasi terkait reagen," tutur Bambang.

Selain itu, mesin PCR juga saat ini masih 100 persen diimpor. Oleh karenanya, Bambang mendorong para peneliti atau akademisi yang mempunyai keahlian atau pengetahuan dasar terkait mesin PCR dapat mulai mengupayakan inovasi dan riset untuk bisa menghasilkan mesin PCR karya anak bangsa.

Bambang menginginkan agar hasil riset dan inovasi dalam negeri dapat membantu penanganan COVID-19 baik untuk menekan penyebaran COVID-19, menangani pasien COVID-19, memulihkan ekonomi bangsa serta membangun kesiapan masyarakat untuk adaptasi kebiasaan baru.

"Sehingga kegiatan ekonomi dapat berjalan produktif dengan menjaga kesehatan di tengah pandemi," katanya.

Kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan teknologi juga diarahkan untuk mencapai apa yang belum dikuasai saat ini atau yang perlu pengembangan lanjutan.

Para peneliti dapat menghasilkan suplemen yang bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap kemungkinan terinfeksi Covid-19, obat-obatan, terapi pengobatan, stem cell dan bidang lain yang bermanfaat bagi penanganan Covid-19 di Tanah Air.

(antara/DAL)

[Gambas:Video CNN]