Pelemahan Medan Magnet Bumi Disebut Wajar, Tak Efek Bencana

CNN Indonesia | Rabu, 29/07/2020 08:09 WIB
Pelemahan medan magnet Bumi tidak terkait fenomena Matahari lockdown. Ilustrasi planet Bumi. (iStockphoto/Cimmerian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan periode pelemahan medan magnet bumi merupakan hal wajar. Masyarakat diminta tidak perlu khawatir ketika peristiwa ini terjadi sebab pelemahan itu bersifat periodik dan akan kembali menguat.

"Jadi inti sebenarnya magnet Bumi itu terbentuk karena rotasi Bumi yang mengandung banyak mineral. Periode pelemahan magnet Bumi itu adalah periodik yang wajar terjadi," kata Kepala Sub Bidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Suadi Ahadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (28/7).

"Bukan artinya dia melemah langsung mati, tapi dia menguat kembali. Itu proses yang wajar," sambungnya.


Lebih lanjut Suadi mengatakan peristiwa ini pun dibarengi aktivitas Matahari yang juga tengah melemah, namun periodiknya hanya sebelas tahun. Meski begitu Suadi menegaskan tidak akan ada efek bencana akibat fenomena pelemahan medan magnet Bumi.

"Jadi fenomena pelemahan magnetik di Samudra Hindia dan tepatnya di Afrika Selatan dan fenomena perubahan kutub magnetik yang mendekat ke kutub utara bumi itu fenomena yang biasa, tidak berdampak langsung ke masyarakat," tegas Suadi.

Malah peristiwa pelemahan medan magnet menguntungkan bagi pola iklim yang lebih stabil dalam beberapa tahun mendatang.

Tetapi Suadi mengatakan frekuensi gempa akan lebih banyak terjadi namun magnitudonya kecil dalam beberapa tahun ini.

"Gempa beruntun itu enggak termasuk sama pelemahan, jadi mainnya global. Jadi gini kalau kita bicara model medan magnetik bumi itu kan global. Satu bumi itu kita bicarakan frekuensi pada saat ini karena terjadi perubahan pembalikan kutub di Samudera Hindia 20 tahun terakhir ini frekuensi gempa akan jauh lebih tinggi di seluruh dunia," jelasnya.

Di sisi lain, Peneliti Astronomi BMKG, Rukman Nugraha pun memastikan pelemahan medan magnet bumi bukan didasarkan pada Matahari lockdown atau yang juga disebut dengan fenomena Grand Solar Minimum (GSM).

"Pelemahan medan magnet Bumi tidak terkait dengan aktivitas kemagnetan di Matahari atau siklus sebelas tahunan Matahari, yang saat ini dalam fase minimumnya [dikenal juga sebagai matahari lockdown]," kata Peneliti astronomi BMKG, Rukman Nugraha saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (28/7).

Menurut Rukman, pelemahan medan magnet Bumi disebabkan oleh kondisi internal Bumi, khususnya di bagian inti. Medan magnet bumi sendiri dihasilkan oleh dinamika yang terjadi di inti-luar bumi yang terdiri atas besi dan nikel cair serta inti-dalam Bumi yang lebih padat.

"Gerakan fluida di inti-luar ini bersifat untuk mempercepat proses pembalikan arah medan magnet Bumi, sementara inti bagian dalam memperlambatnya," jelas Rukman.

"Dinamika kedua bagian inti inilah yang menyebabkan proses pembalikan arah medan magnet bumi bisa berlangsung dalam waktu ribuan tahun," pungkasnya.

(din/fea)

[Gambas:Video CNN]