Ban Tanpa Udara TNI Kebal Peluru Kaliber 5,6 mm

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 19:44 WIB
Ban tanpa udara buatan Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) TNI bukan hanya mampu menerjang segala medan dan paku, namun juga peluru. Ilustrasi ban tanpa udara TNI. (Dok.Poltekad)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ban tanpa udara buatan Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) TNI bukan hanya mampu menerjang segala medan dan kebal terhadap paku. Bahkan klaimnya ban masih dapat berfungsi meski diterjang peluru dengan jarak maksimal 100 meter.

Penjelasan Perwira Teknis 2 Poltekad Letda ARM Farid Hendro, ban tersebut sudah melalui rangkaian uji coba termasuk ditembak menggunakan peluru kaliber 5,56 mm.

"Kami uji tembak di Pindad pakai peluru kaliber 5,56 mm. Dari jarak maksimal 100 meter," kata Farid mengutip akun resmi video berbagi TNI Angkatan Darat (AD), Selasa (4/8).


Usai ditembaki, menurut Farid ban ini tak mengalami masalah berarti. Ban tetap dapat digunakan seperti semula.

"Setelah itu dipakai lagi dipasang lagi, dan bisa kembali digunakan dan masih nyaman dengan jarak yang lebih panjang," kata Farid.

Ban tanpa udara dirancang dengan struktur memiliki banyak rongga. Struktur itu memiliki banyak fungsi, antaranya sebagai penyangga dan peredam. Struktur ini juga yang punya peran laiknya jari-jari pelek.

Pembuatan bagian jari-jari berongga seperti sarang lebah itu menggunakan karet dengan campuran senyawa kimia.

Ban tanpa udara buatan Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) bukan hanya mampu menerjang segala medan dan kebal terhadap pakuBan tanpa udara buatan Politeknik Angkatan Darat (Poltekad). (Dok.Poltekad)

Kemudian dalam proses pencetakan jari-jari, terlebih dahulu diletakkan pelek kecil di bagian tengah alat pencetakan. Pelek itu berperan sebagai pengait antara as roda dengan ban tanpa angin.

Selanjutnya 'adonan' karet dan senyawa kimia tersebut dituangkan supaya menyatu. Pelek kecil ini bukan bawaan pabrik. Poltekad membuatnya sendiri atau custom agar sesuai antara jari-jari karet tersebut dengan as roda bawaan pabrikan mobil.

Ban ini sudah diuji coba menggunakan pikap kabin ganda sembari mengitari area perkotaan di Batu, Jawa Timur. Pikap tersebut dibawa mengitari kota Batu selama hampir dua jam dengan rata-rata kecepatan 40-50 km per jam.

Disebutkan juga ban ini mampu mampu menahan beban dua sampai empat ton.

Komandan Poltekad Kodiklat TNI AD Brigadir Jenderal Nugraha Gumilar mengapresiasi kerja keras anak didiknya yang membuat penelitian mengenai ban tanpa udara.

Nugraha berharap seluruh jajaran Poltekad tidak pernah kendur untuk urusan semangat dan merealisasikan sebuah ide.

(ryh/DAL)

[Gambas:Video CNN]


ARTIKEL TERKAIT