Nitrat Peledak di Libanon Sumber Petaka Airbag Mobil di Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 14:46 WIB
Recall 59 juta unit kendaraan terkait airbag Takata disebabkan penggunaan senyawa kimia amonium nitrat. Ilustrasi airbag. (iStockphoto/saravuth-photohut)
Jakarta, CNN Indonesia --

Senyawa kimia amonium nitrat yang diduga penyebab ledakan dahsyat di Beirut, Libanon pada Selasa (4/8), punya banyak kegunaan. Selain sebagai bahan peledak ataupun pupuk, senyawa ini juga pernah digunakan pada airbag mobil yang kemudian malah jadi sumber petaka.

Produsen airbag yang menggunakan senyawa dengan rumus N2H4O3 adalah Takata. Pada 2013 Takata mulai menyatakan recall airbag amonium nitrat, sekarang masalah ini sudah melibatkan 19 merek dan lebih dari 59 juta kendaraan di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Berbagai produsen yang terlibat recall Takata di antaranya Toyota, Nissan, Honda, Mazda, Mitsubishi, General Motors, Subaru, Ford, Chrysler, dan BMW.


National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) di Amerika Serikat menyatakan sumber masalah recall airbag Takata yakni penggunaan amonium nitrat tanpa zat kimia pengering.

Kelembapan, suhu tinggi, dan usia komponen yang terkait kerusakan disebut bisa membuat airbag mengembang tidak sempurna, bahkan dikatakan dapat melontarkan komponen seperti pecahan peluru hingga melukai penumpang.

Consumerreports.org pada tahun lalu menjelaskan masalah airbag Takata telah menewaskan 24 orang di seluruh dunia.

Mengutip theatlantic, Rabu (5/8), Takata sudah mengubah bahan utama airbag, tetrazol, menjadi amonium nitrat pada 2001. Takata menyebut bahan baru itu 'aman dan efektif' untuk digunakan dalam inflator (pelontar) airbag ketika diproduksi dengan benar.

Namun fakta yang terjadi tidak demikian. Amonium nitrat dapat mengembang cepat sebagai gas tanpa meledak, di samping itu senyawa kimia tersebut juga dapat meledak dengan keras.

"Dan itu tidak diatur sama sekali sebagai pelontar [airbag]," kata Byron Bloch, seorang konsultan desain mobil dan penasihat lama untuk teknologi keamanan otomotif.

"Pabrikan airbag memiliki pilihan senyawa kimia sendiri. Anda memang tidak harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu untuk bahan kimia yang Anda gunakan. Dan kimia pelontar tidak dipantau dengan cara apa pun. Jadi begitu Anda membuatnya, dan Anda berharap itu disegel dengan benar, Anda tidak tahu apa yang terjadi, secara kimia, pada pelontar setelah lima tahun, 10 tahun, 15 tahun," lanjutnya.

New York Times dalam laporannya menjelaskan tim dari Autoliv pernah diminta mempelajari airbag Takata. Taylor, kepala ahli kimia Autoliv, mengatakan, timnya bisa segera mengenali risiko amonium nitrat.

"Kami merobek airbag Takata secara terpisah, menganalisis semua bahan bakar, mengidentifikasi semua bahan. Ketika airbag diledakkan, gas dihasilkan begitu cepat, itu membuat inflator hancur berkeping-keping," kata Taylor.

Hock, anggota tim Taylor, mengatakan, pernah melakukan pengujian pada inflator ammonium nitrat tiruan dan menghasilkan ledakan yang membuat timnya terguncang.

"Itu mengubahnya menjadi pecahan peluru," kata Hock.


Ada dugaan Takata memilih amonium nitrat lantaran murah. Hal ini diketahui berdasarkan penuturan mantan karyawan Takata, Mark Lillie.

Lillie yang pernah bekerja sebagai insinyur di Takata menjelaskan pada 2014 pertimbangan biaya mendorong perusahaan untuk menggunakannya, meskipun telah menyadari ada bahaya di balik itu semua.

Produk airbag berbahan amonium nitrat membawa Takata ke keterpurukan, pada 2017 perusahaan menyatakan diri bangkrut di AS dan Jepang. Pada 2018 nama Takata diganti menjadi Joyson Safety System setelah asetnya dibeli perusahaan berbasis di AS, Key Safety System.

(ryh/fea)

[Gambas:Video CNN]