Timang-timang Langkah Huawei di Masa Berat Imbas Tekanan AS

CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 08:06 WIB
Huawei mesti menimang-nimang langkah yang tepat imbas tekanan AS pada vendor seluruh dunia yang membuat produsen itu kehilangan Ilustrasi Huawei (istockphoto/urf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Huawei mesti menimang-nimang langkah yang mesti dilakukan agar bisa tetap memiliki suplai chipset untuk memproduksi ponsel.

Beberapa opsi yang dimiliki Huawei adalah dengan mencari pabrik berbeda yang mampu memproduksi Kirin atau menggantikan Kirin dengan chipset lain.

Hal ini bermula dari keputusan perusahaan semikonduktor asal Taiwan, TSMC. Perusahaan pembuat cip itu memutuskan untuk tak lagi memproduksi chipset Kirin besutan Huawei mulai September mendatang.


Keputusan ini dibuat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat kebijakan agar perusahaan di seluruh dunia yang menggunakan teknologi AS tak lagi memberikan dukungan kepada Huawei.

Penghentian produksi akan membuat Huawei kehabisan chipset Kirin yang mendukung ponsel pintarnya. Analis memprediksi Huawei akan kehabisan stok chipset pada 2021 hingga 2022.

Sebelumnya, AS telah berusaha menjegal bisnis ponsel Huawei dengna melarang perusahaan AS untuk berbisnis dengan perusahaan itu. Akibatnya, ponsel anyar Huawei tak bisa mendapat akses ke berbagai layanan Google. Mulai dari Play Store, Google Maps, hingga Gmail.

Namun, meski dipojokkan AS, kala itu Huawei mampu bertahan. Penjualan ponsel 5G Huawei bahkan mengungguli Samsung.

Huawei menjual 6,9 juta ponsel 5G sepanjang tahun 2019 sementara Samsung 6,7 juta ponsel. Tahun lalu, Huawei keluarkan delapan smartphone 5G. Selain itu, penjualan ponsel Huawei seri Mate dan P pun tercatat tumbuh 50 persen.

Namun, kini AS menghujam bagian terpenting dari bisnis ponsel Huawei, memampatkan produksi chipset yang menjadi jantung ponsel perusahaan China itu.

Opsi Huawei produksi chipset

Direktur Eksekutif of wireless device strategies di Strategy Analytics, Neil Mawston membeberkan beberapa opsi bagi Huawei untuk mengamankan bisnis ponselnya.

Pertama adalah melanjutkan chipset Kirin dengan memindahkan manufaktur ke Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) milik China. Namun, teknologi SMIC masih tertinggal dibandingkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC).

Opsi kedua  adalah menggunakan chipset Unisoc dari China, namun Mawston mengatakan semikonduktor besutan Unisoc masih low-end dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengejar kualitas.

Dilansir dari CNBC, opsi ketiga  dengan menggunakan chipset MediaTek dari Taiwan. Opsi ini dianggap Mawston yang paling masuk akal dilakukan oleh Huawei dalam jangka pendek. Namun MediaTek juga masih menggunakan produksi di TSMC. 

Keempat adalah menggunakan chipset Exynos milik Samsung. Namun, Mawston mengatakan pihak Samsung belum tentu mau berbagi chipset mengingat Huawei adalah salah satu rival terberat di bisnis ponsel pintar.

Kelima adalah bernegosiasi dengan pemerintah AS untuk mencabut larangan Qualcomm memasok ke Huawei. Sebab Huawei masuk daftar hitam dalam perang dagang antar Amerika Serikat dengan China.

Pakar gadget, Lucky Sebastian menjelaskan Qualcomm yang merupakan perusahaan AS dikabarkan sedang meminta izin khusus dari pemerintah Amerika Serikat untuk menjual chipset Snapdragon ke Huawei.

"Karena sebenarnya saling tekan antar Amerika dan China ini adalah perang dagang, atau strategi ekonomi, bisa saja ada kemungkinan Qualcomm diberi izin khusus untuk menjual chipsetnya ke Huawei," kata Lucky.

CNNIndonesia.com telah menghubungi Huawei untuk meminta tanggapan terkait hal ini, namun belum mendapat tanggapan.

Bisnis ponsel Huawei terancam

Huawei P40Sejak peluncuran seri P30, Huawei sudah tak lagi miliki akses terhadap layanan Google, begitu juga dengan peluncuran seri P40 (Huawei)

Apabila Huawei benar-benar kehabisan stok Kirin, bisnis ponselnya diprediksi akan menurun.

Dilansir dari South China Morning Post, dengan merancang chipset sendiri, Huawei mampu mengalahkan kompetitornya dengan fitur-fitur baru. 

Fitur tersebut termasuk pemrosesan gambar berbasis AI untuk meningkatkan fotografi high dynamic range (HDR), pengenalan objek dan fitur lainnya.

"Huawei dapat mengoptimalkan fitur-fitur smartphone yang disesuaikan dengan chipset buatan sendiri. Huawei menggunakan Golden Snap sebagai contoh, fitur yang menghilangkan orang yang lewat dan pantulan yang tidak diinginkan dari foto," menurut Mo Jia, seorang analis di perusahaan riset pasar Canalys.

Hasilnya, fotografi menjadi kebanggaan tersendiri bagi Huawei. Perusahaan bahkan bekerja sama dengan merek kamera Jerman terkemuka, Leica untuk smartphone seri P-nya.

Lalu kinerja prosesor Kirin juga rutin mendapatkan nilai tinggi dari peninjau karena bersaing chipset Snapdragon andalan Qualcomm dan cip A milik Apple.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]