Analisis

Huawei Diujung Tanduk Usai Skakmat AS

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2020 07:40 WIB
Bisnis ponsel Huawei menjadi pertaruhan di ujung tanduk usai di skakmat AS yang melarang TSMC memproduksi chipset bagi gawai ponsel China itu. Huawei terancam tidak bisa memproduksi ponsel setelah Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) memutuskan untuk menghentikan produksi cipset Kirin. (Foto: istockphoto/ Nadya So))
Jakarta, CNN Indonesia --

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) memutuskan untuk menghentikan produksi chipset Kirin milik Huawei usai tekanan Amerika Serikat (AS) sebagai sanksi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Penghentian produksi ibarat skakmat bagi Huawei lantaran bakal mengganggu produksi ponsel produsen gawai asal China itu. TSMC terpaksa tunduk pada keinginan AS lantaran karena peralatan yang digunakan TSMC untuk memproduksi chipset Kirin yang digunakan Huawei, merupakan peralatan dari AS.

Pasalnya, AS telah diperketat larangan kepada Huawei pada Mei lalu. Saat itu, Gedung Putih melarang vendor di seluruh dunia yang menggunakan teknologi AS, untuk memproduksi komponen bagi Huawei.


Meski dijegal oleh AS terkait produksi komponen, Direktur Eksekutif of wireless device strategies dari perusahaan analisa pasar, Strategy Analytics, Neil Mawston memprediksi Huawei dapat bertahan pada 2020.

Namun, menurutnya dua tahun ke depan akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi Huawei untuk mempertahankan stok ponsel pintar, seperti dilansir dari CNBC. Penggiat gadget, Lucky Sebastian pun menyampaikan hal serupa.

"Kalau sampai Huawei tidak berhasil mendapatkan pabrik pembuat chipset atau chipset pengganti (Kirin), maka akan ada kelangkaan produknya, terutama ponsel," kata Lucky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (11/8).

Lucky menjelaskan apabila Huawei memutuskan untuk membuat Kirin, perusahaan harus segera mencari pabrik pengganti yang tidak menggunakan paten teknologi AS.

CNNIndonesia.com sudah menghubungi Huawei Indonesia untuk mengomentari hal ini, namun belum mendapat respons.

Huawei lirik Samsung?

Cipset Exynos SamsungSamsung punya fabrikasi semikonduktor sendiri untuk memproduksi chipset besutannya, Exynos. Akankah Samsung menjadi pelabuhan produksi chipset Huawei berikutnya? (Dok. Samsung)

Dilansir dari Sammobile, Samsung bisa jadi mendapatkan peluang emas di tengah penghentian produksi cipset Kirin ini. Samsung diprediksi akan berusaha untuk meningkatkan performa cipset Exynosnya, terutama kemampuan dari sisi kemampuan AI.

Berbeda dengan Huawei, Samsung memiliki fasilitas manufaktur sendiri sehingga tidak perlu bekerja sama dengan pabrik semikonduktor seperti TSMC untuk membuat cip.

Namun, Lucky menjelaskan Huawei bisa saja membuat chipset di Samsung Semiconductor. Akan tetapi, Lucky mengingatkan ada indikasi bahwa perusahaan yang bekerja sama erat dengan Huawei ditekan AS.

Di sisi lain, Samsung memiliki pasar besar di AS. Lucky mengungkap Samsung menduduki peringkat kedua di pangsa pasar ponsel di AS setelah Apple.

"Untuk chipset kelas flagshipnya jadinya Huawei mengalami kesulitan membuatnya, cara tercepat untuk tetap bisa bertahan setelah stok cipset habis, harus menggunakan cip buatan pihak ketiga, entah Samsung Exynos atau Mediatek," tutur Lucky.

Lucky menjelaskan saat ini peluang terbesar adalah Huawei menggunakan chipset Mediatek mengingat Samsung memiliki potensi akan ditekan oleh Amerika Serikat.

Lucky menjelaskan Qualcomm yang merupakan perusahaan AS dikabarkan sedang meminta izin khusus dari pemerintah AS untuk menjual cipset Snapdragon ke Huawei.

"Karena sebenarnya saling tekan antar Amerika dan China ini adalah perang dagang, atau strategi ekonomi, bisa saja ada kemungkinan Qualcomm diberi izin khusus untuk menjual chipsetnya ke Huawei," kata Lucky.

Bikin sendiri di China

Kemitraan Xiaomi dengan PT Sat Nusapersada untuk memproduksi secara lokal, memperkuat posisi pasar Indonesia dalam strategi ekspansi global Xiaomi. Resmi diproduksi di Indonesia, Xiaomi membuka peluang untuk membawa lebih banyak produk ke pasar Indonesia lebih cepat dari sebelumnya.Ilustrasi. China kini tengah berusaha menggenjot pabrik semikonduktor lokal di negaranya. Namun, teknologi fabrikasi semikonduktor di negara itu masih jauh tertinggal. (Dok. Xiaomi)

Namun patut diingat, Huawei kemungkinan tak akan membuat chipset di China, sebab pabrik semikonduktor di sana masih tertinggal dibandingkan TSMC atau Samsung Semiconductor.

Dilansir dari Android Authority, Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) milik China bisa diajak Huawei untuk memproduksi Kirin. Namun, SMIC sendiri masih menggunakan peralatan buatan AS.

SMIC terutama tertinggal dalam teknologi fabrikasi chipset terkini. Sebab, SMIC hanya mampu memproduksi chipset FinFET 14nm, sementara TSMC mampu memproduksi FinFET 7nm .

Belakangan, TSMC bakalan mampu memproduksi chipset dengan EUV makin kecil, 5nm. Oleh karena itu, SMIC tak akan segera mampu menggantikan TSMC sebagai opsi manufaktur chipset premium.

Angka FinFET ini penting, lantaran berpengaruh pada kinerja ponsel. Makin kecil pemrosesan semikonduktor, makin banyak transitor yang bisa dimuat, sehingga meningkatkan kinerja ponsel.

Huawei tersudut

Lucky menyebut bisnis ponsel Huawei tentu akan terancam ketika tak mampu untuk memproduksi cipset Kirin. Sebab tanpa pabrik untuk memproduksi Kirin dan belum adanya kepastian cipset pengganti Kirin, Huawei tak mungkin menjual ponsel ke pasar.

Lucky memprediksi pada kuartal III 2020, pangsa pasar global Huawei akan menurun akibat masalah cipset ini.

"Sepertinya nanti di kuartal tiga bisa jadi akan ada penurunan pangsa pasar Huawei, karena tanpa Google Mobile Services (GMS) tidak berpengaruh untuk pasar China, sementara tanpa chipset, tidak ada smartphone yang bisa dijual. Belum lagi menyangkut juga cipset modem 5G," tutur Lucky.

Huawei sejauh ini memang terbukti mampu bertahan meski telah AS telah melarang perusahaan untuk bekerja sama dengan Huawei. Google Mobile Services (GMS) berupa Gmail hingga Google Play Store yang tak bisa dipakai di perangkat Huawei, mampu digantikan dengan Huawei Mobile Services (HMS).

Huawei P40 ProIlustrasi. Usai tak bisa lagi produksi Kirin, Huawei Mate 40 diperkirakan akan jadi ponsel terakhir Huawei yang akan menggunakan prosesor itu. (dok. CNNIndonesia.com/ Eka Santhika)

"Walau sampai saat ini ketika sudah dilarang menggunakan GMS, market share Huawei masih sangat bagus. Tetapi hal ini lebih dikarenakan rasa nasionalis penduduk China untuk mendukung Huawei dan menggunakan produknya, sementara secara global tanpa GMS, penjualan smartphone Huawei tentu terdampak," tutur Lucky.

Akan tetapi, permasalahan penghentian produksi chipset lebih buruk dari pelarangan GMS. Masalah pertama yang muncul adalah penghentian produksi ini akan memengaruhi produk Huawei di seluruh dunia termasuk di China yang tak menggunakan Google.

Masalah pasokan cip mengancam kemampuan Huawei untuk menyelesaikannya di China. Negara itu merupakan pasar yang semakin diandalkan perusahaan karena daya tarik Huawei yang tersendat di global.

Kedua, adalah tanpa Kirin, ponsel Huawei kehilangan nilai jual unik terpentingnya. Huawei bisa menjadi produsen ponsel pintar pada umumnya.

Reputasi ponsel cerdas Huawei berpusat pada kualitas kamera yang luar biasa. Sebagian besar hal ini disebabkan oleh prosesor sinyal gambar (ISP) perusahaan yang dibangun ke dalam Kirin. Chipset Kirin yang menjalankan algoritme pengurangan noise gambar BM3D mutakhir dan mendukung teknologi sensor RYYB yang unik.

Hampir setiap poin penjualan unik setiap ponsel Huawei didasarkan pada perangkat keras Kirin. Kirin juga unggul dalam machine learning berkat arsitektur khusus Da Vinci.

Machine learning ini cocok untuk pencitraan zoom resolusi super, pengenalan suara berdaya rendah, kontrol gerakan, keamanan pengenalan wajah, dan masih banyak lagi.

Kemungkinan pelarangan akan dicabut pasca Trump lengser

President Donald Trump pauses while speaking with members of the media before boarding Marine One on the South Lawn of the White House in Washington, Thursday, Aug. 6, 2020, for a short trip to Andrews Air Force Base, Md. and then on to Cleveland, Ohio. (AP Photo/Andrew Harnik)Presiden AS Donald Trump terus memberlakukan aturan ketat untuk menjegal bisnis Huawei imbas perang dagang dengan China. Pada November mendatang, AS akan melakukan pemilu dan akan menentukan nasib Trump apakah akan terus memimpin AS atau tidak.  (AP Photo/Andrew Harnik)

Saat ditanya soal kemungkinan pelarangan akan dicabut apabila presiden Donald Trump kalah dalam Pemilu AS 2020 pada 3 November mendatang, Lucky mengatakan stok ponsel Huawei dipastikan aman.

Sebab Lucky mengatakan Huawei saat ini hingga penutupan produksi cipset pada 15 September, tengah menggenjot produksi chipset sebanyak mungkin untuk menumpuk cadangan chipset.

"Pelarangan dari Amerika ini sudah diperkirakan akan terjadi, sehingga stok ponsel Huawei akan tetap aman beberapa bulan ke depan. Karena dalam produksi, tidak bisa tiba-tiba mengganti chipset," tutur Lucky.

Menurut Lucky dibutuhkan waktu untuk penyesuaian software, testing, optimalisasi dan lain sebagainya untuk chipset yang berbeda. Jadi Huawei masih punya waktu hingga 15 September untuk mencari jalan keluar dari penghentian produksi chipset ini.

Tanggal 15 September ini menjadi hari terakhir TSMC membuatkan chipset untuk Huawei, setelah itu tidak lagi. Diperkirakan sampai hari terakhir tersebut, TSMC sudah membuatkan chipset terbaru Huawei, Kirin 1020 yang dengan fabrikasi 5nm, untuk ponsel terbaru Huawei Mate40 series.

"Seberapa banyak chipset yang dibuat, kita tidak memiliki datanya, dan tentu saja ini menyangkut bukan hanya chipset flagship terbaru, tetapi juga chipset untuk seri mid dan low-end yang jumlah penjualannya pasti lebih tinggi," tutup Lucky.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]