Penyebab Cuaca Ekstrem di Bandung Bikin Hujan Es Saat Kemarau

eks, CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 10:21 WIB
LAPAN mengungkap penyebab cuaca ekstrem di Bandung yang menyebabkan turun hujan es saat musim kemarau pada Agustus. Ilustrasi hujan es. LAPAN mengungkap penyebab cuaca ekstrem yang menyebabkan hujan es di Bandung belakangan (Abi Hafiz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut cuaca ekstrem menjadi penyebab hujan es yang disertai angin kencang yang terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Barat saat musim kemarau pada Agustus.

Salah satu wilayah yang terimbas hujan es saat musim kemarau yang terjadi beberapa hari terakhir ini dilaporkan terjadi di Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8).

"Hujan lebat disertai angin kencang dan sempat turun es (terjadi) di area Cimahi dan Bandung," seperti tertulis dalam video yang dibagkan LAPAN lewat akun Instagram.


[Gambas:Instagram]

Menurut LAPAN hujan es dan angin kencang di musim kemarau ini terjadi karena beberapa hal.

1. Pengaruh Samudra Hindia dan perairan Maluku

Menurut LAPAN terjadi penghangatan suhu permukaan laut di selatan Samudra Hindia dan perairan Maluku. Meski demikian, menurut LAPAN penghangatan permukaan laut sebenarnya terjadi merata di seluruh wilayah Indonesia.

Namun, konsentrasi area pemanasan suhu permukaan laut tertinggi terjadi di perairan Maluku dan selatan Samudra Hindia.

"Kedua wilayah ini sensitif terhadap kemarau basah di Indonesia dan telah dibuktikan melalui penelitian Xu dkk. (2020)," tulis Erma Yulihastin, Peneliti Sains Atmosfer PSTA-LAPAN.

Kemarau basah oleh faktor regional ini disebut sering memicu pembentukan cuaca ekstrem. Frekuensinya lebih banyak ketimbang kemarau basah akibat faktor global seperti La Nina dan/atau negatif IODM.

2. Pertemuan massa udara lembab dan kering

Faktor kedua menurut LAPAN akibat pertemuan massa udara lembap dan massa udara kering.

Maksudnya, front massa udara dingin yang berasal dari Australia bertemu dengan udara lembap di perairan lokal Indonesia. Massa udara dingin bertiup dari Australia karena saat ini benua itu sedang mengalami musim dingin.

Pertemuan ini memicu hujan skala lokal (< 5 km). Pertemuan ini terkonsentrasi di kawasan Jawa Barat-Sumatra dan Maluku-Sulawesi.

Salah satu penampakan awan konvektif adalah fenomena awan "tsunami" yang sempat heboh beberapa hari lalu di pesisir barat Aceh.

Menurut LAPAN, kedua faktor tersebut menjadi faktor utama pemicu cuaca ekstrem yang diprediksi lebih sering terjadi menjelang akhir Agustus.

"Bulan September, wilayah Indonesia diprediksi akan lebih basah dan lebih sering mengalami hujan sehingga potensi terjadinya hujan dengan intensitas yg lebih tinggi dan persisten pun akan meningkat,"

Cuaca ekstrem pada bulan-bulan mendatang tidak hanya bersifat lokal (

(eks)

[Gambas:Video CNN]