Fakta Mutasi Virus Corona D614G, Tak Mempan Pakai Vaksin

CNN Indonesia | Selasa, 18/08/2020 19:03 WIB
Penularan mutasi virus corona D614G disebut 10 kali lebih ganas dan sudah ditemukan di Malaysia. Ilustrasi mutasi virus corona. (iStockphoto/Naeblys)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penelitian terbaru menemukan varian mutasi virus corona SARS-CoV-2 yang memiliki tingkat penularan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Penelitian dari Scripps Research Institute, Florida, Amerika Serikat (AS), varian mutasi virus corona yang dinamakan D614G lebih menular dari para leluhurnya.

Negara tetangga, Malaysia bahkan mengatakan telah mendeteksi mutasi D614G di negara tersebut. Padahal penelitian awal mengatakan varian ini paling banyak menyebar di AS dan Eropa.

Dikumpulkan dari berbagai sumber,  berikut beberapa fakta dari mutasi D614G.


1. D614G 10 kali lebih menular dibandingkan varian sebelumnya

Peneliti pada pertengahan Juni lalu mengungkapkan mutasi virus corona SARS-CoV-2, D614G yang membuat Covid-19 lebih mudah menular dari varian sebelumnya.

Berdasarkan penelitian dari Scripps Research Institute, Florida, Amerika Serikat (AS)  mutasi ini 10 kali menular dibandingkan leluhurnya.

2. Mutasi dominan di dunia

Mutasi D614G pertama kali dideteksi di Eropa pada Februari lalu. Sejak saat itu, varian ini menyebar paling banyak pada kasus infeksi virus corona SARS-CoV-2 di dunia.

Ahli biologi komputasi & ahli genetik, Bette Korber menjelaskan mengapa D614G bisa menjadi mutasi yang dominan di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa mutasi D614G memiliki penyebaran yang lebih tinggi dibandingkan virus aslinya.

Korber menjelaskan varian D614G begitu dominan hingga kini menjadi pandemi. Varian ini sudah berlangsung selama beberapa waktu, bahkan mungkin sejak awal epidemi di tempat-tempat seperti Inggris Raya dan pantai timur AS.

Penelitian Korber menunjukkan D614G mampu mendominasi jenis mutasi apabila masuk ke suatu daerah tertentu.  D614G selalu bisa mendominasi ketika ada versi asli virus dan D614G di satu daerah.

Sejauh ini hanya mutasi D614G yang berhasil diidentifikasi sebagai kemungkinan mengubah perilaku virus SARS-CoV-2. Padahal  SARS-CoV-2 telah mengalami beberapa mutasi sejak pandemi muncul pada Desember 2019.

3. Sudah terdeteksi di Malaysia

Pada Minggu 16 Agustus, Malaysia mengumumkan telah menemukan mutasi D614G di negeri Jiran.

Padahal sebelumnya, penelitian Los Alamos National Laboratory di AS menyebut D614G ini paling banyak menyebar di AS dan Eropa. Penemuan varian virus di Malaysia membuktikan virus ini telah menyebar juga di Asia Tenggara.

Virus di Malaysia  ini dibawa oleh seorang pria yang baru dari India. Ia melanggar ketentuan karantina dan menginfeksi lebih dari 45 orang. Ketika 45 kasus positif corona itu dirawat, ternyata dari uji sampel, 3 orang memiliki virus corona yang sudah bermutasi jadi lebih menular dengan varian D614G.

4. Belum terdeteksi di Indonesia

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan virus corona varian D614G yang 10 kali lebih cepat menularkan Covid-19 ini belum terdeteksi di Indonesia.

Kendati demikian, LIPI  menyatakan mutasi belum dapat dipastikan sudah masuk ke Indonesia atau belum.

Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto menyebut berdasarkan data varian genom virus corona yang didaftarkan ke GISAID, memang varian itu belum masuk Indonesia.

GISAID sendiri merupakan institusi yang dibuat oleh Pemerintah Jerman dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional untuk mempelajari data genetika virus.

"Berdasarkan yang sudah di submit Indonesia ke GISAID, mutasi D614G belum ditemukan di Indonesia. Ada 15 strain yang sudah dikirimkan dan tercantum di laman GISAID, dari LBM Eijkman di Jakarta dan Institute of Tropical Disease (ITD) di Surabaya," kata Wien.

Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah mutasi D614G masuk ke Indonesia, perlu dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS) Covid-19 asli Indonesia yang lebih banyak.

"Masih belum bisa dipastikan, karena perlu dilakukan WGS virus SARS-CoV-2 yang lebih banyak," ujar Wien.

5. Lebih mudah menular tapi belum tentu mematikan

Virolog sekaligus  Ketua Access Health International, William Haselitne mengatakan bahwa virus ini 10 kali lebih menular. Meski lebih menular,  belum tentu membuat virus corona ini jadi lebih mematikan.

Di sisi lain, Nathan Grubaugh, asisten profesor epidemiologi penyakit mikroba di Yale School of Public Health mengatakan bahwa penelitian tidak membuktikan D614G meningkatkan penularan lebih virus meski mengungkap mutasi menular 10 kali lebih cepat.

6. Muncul spekulasi vaksin tak efektif

Spekulasi kemudian muncul bahwa ahli perlu mengembangkan vaksin terpisah untuk varian yang berbeda. Akan tetapi, sebagian besar vaksin yang dikembangkan didasarkan pada wilayah spike yang berbeda, sehingga hal ini tidak berdampak pada perkembangannya.

Meskipun mutasi D614G terjadi pada protein spike virus, mutasi ini tidak mengubah domain pengikat reseptor (RBD) di ujung protein spike. RBD mengikat reseptor ACE2 pada sel manusia.

Intinya, mutasi D614G mengubah protein lonjakan, tetapi tak mengubah bagian RBD yang kritis untuk pengembangan vaksin.

Di sisi lain, vaksin dan beberapa obat anti virus yang sedang dikembangkan saat ini akan menargetkan protein spike D614G untuk mencegah virus berkaitan dengan reseptor. Sehingga, mutasi besar pada protein spike dapat mencegah efisiensi vaksin dan obat itu.

(jnp/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK