Ahli Ungkap Faktor Kematian Covid-19 RI 3 Kali Lebih Banyak

CNN Indonesia | Kamis, 27/08/2020 15:21 WIB
Epidemiolog membenarkan angka kematian akibat Covid-19 milik pemerintah Indonesia tidak akurat. Ilustrasi virus corona di Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman membenarkan angka kematian akibat Covid-19 milik pemerintah Indonesia tidak akurat. Dia mengatakan sistem pelaporan penyebaran virus corona di negara berkembang seperti Indonesia masih belum optimal.

"Ini fenomena yang terjadi di hampir semua negara berkembang di dunia. Karena sistem pelaporan yang memang belum optimal," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/9).

Dicky menuturkan tidak akuratnya angka kematian Covid-19 di Indonesia merupakan akibat dari berbagai faktor. Misalnya, dia menyebut belum memadainya deteksi dini dan pelacakan kasus kontak. Selain itu, ada faktor demografi dan faktor risiko lainnya seperti komorbid.


Lebih lanjut, Dicky menjelaskan tidak akuratnya angka kematian sangat berpengaruh dalam memahami kondisi sesungguhnya penyebaran Covid-19 di masyarakat. Dia juga berkata hal itu akan berdampak pada ketepatan strategi yang dibuat.

"Contoh sederhana adalah adanya pernyataan suatu daerah aman karena relatif sedikitnya angka kasus baru Covid-19. Padahal cakupan tesnya belum 1 tes per 1000 orang per minggu dan positive rate-nya belum di bawah 5 persen," ujarnya.

Terkait dengan hal itu, Dicky menyarankan pemerintah terus meningkatkan upaya pengendalian penularan berkolaborasi dengan pegiat kesehatan, seperti LaporCOVID-19 dan KawalCOVID-19, serta dengan para akademisi.

"Sehingga dapat saling melengkapi dan memberi masukan," ujar Dicky.

Virus Corona Belum Terkendali

Dicky menilai penularan Covid-19 belum dapat dikendalikan dengan optimal. Sebab, dia mengatakan angka kematian global masih sangat tinggi. Dia menyebut pengendalian penularan perlu diperbaiki guna menekan lebih banyak kematian.

Jika hal itu tak dilakukan, dia mengaku khawatir masyarakat hingga pengelola kebijakan akan jenuh dalam menjalan protokol kesehatan. Pandemi sudah berlangsung selama delapan bulan.

Kejenuhan, kata dia dapat program pengentasan, pelacakan, isolasi, dan perilaku sehat menjadi longgar.

"Di saat itulah maka ancaman besar dapat terjadi, karena virus ini dapat dengan leluasa menimpa kelompok paling rawan di masyarakat, yang akan mengakibatkan tingginya kematian dan kesakitan," ujar Dicky.

Dicky menambahkan Indonesia harus memilih strategi yang efektif dan efisien dalam mengendalikan pandemi Covid-19 agar dapat menahan laju kesakitan dan kematian hingga ditemukannya obat dan vaksin yang efektif. Dia berkata  obat dan vaksin diperlukan melengkapi intervensi tes, lacak, isolasi, dan perubahan perilaku.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK