Mutasi Virus Corona Lebih Menular Belum Terbukti Makin Bahaya

CNN Indonesia | Rabu, 02/09/2020 15:16 WIB
Menristek menyebut mutasi virus corona D614G yang disebut 10 kali lebih menular tak bikin Covid-19 lebih ganas dan berbahaya. Ilustrasi virus corona (iStockphoto/BlackJack3D)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyebut virus corona SARS-CoV-2 dengan varian strain D614G yang disebut 10 kali lebih menular tidak lebih ganas dan berbahaya.

Menurutnya, virus mutasi ini sudah mendominasi virus corona yang menjadi pandemi dunia saat ini. Sehingga, virus yang bermutasi ini disebut tidak lebih ganas dan berbahaya.

"Sudah call (telepon) presiden GISAID, bahwa tidak ada bukti virus ini lebih ganas dan bahaya. Pada intinya, mutasi D416G sama aja dengan SAR-Cov-2 yang kita hadapi selama ini," tuturnya dalam konferensi pers virtual di kantor Graha BNPB Jakarta, Rabu (2/9).


Lebih lanjut, Bambang menjelaskan mutasi D614G, pertama kali dideteksi Januari lalu di Jerman dan China. Namun, saat ini jenis mutasi virus itu sudah mendominasi virus corona yang menyebar di dunia.

"Kalau melihat WGS, pada dasarnya 78 persen yang mengandung D614G, artinya sudah mendominasi virus corona (dunia)," lanjutnya.

Menurut Bambang dari 24 sampel whole genom sequence (WGS) Indonesia yang dikirim ke GISAID, 9 sampel mengandung D614G.

Sembilan sampel itu 2 sampel berasal dari Surabaya, 3 dari Yogyakarta, 2 dari Tangerang dan Jakarta, serta 2 dari Bandung.

Untuk itu ia meminta warga agar tidak panik berlebihan, namun mesti tetap waspada penuh. Sebab menurutnya selama saling hidup bersama, maka pandemi akan tetap ada. Untuk itu ia meminta agar warga tetap mematuhi protokol kesehatan.

Selain itu, menurut pria yang akrab disapa Bambroj itu, tidak ada bukti kalau mutasi virus ini tidak akan mengganggu upaya buat vaksin.

"Mutasi ini tidak menyebabkan perubahan struktur maupun fungsi RBD yang merupakan bagian dari virus spike yang jadi target vaksin," tuturnya.

Sebelumnya, Pakar Biomolekuler UniversitasAirlangga, NiNyoman TriPuspaningsih sebanyak 63 ribu atau 77,5 persen data virus corona dunia memuat varian mutasi D614G. Menurutnya, saat ini data virus corona SARS-CoV-2 yang ada di GISAID saat ini sekitar 92 ribu.

Hal ini berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). GISAID adalah sebuah lembaga bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus corona SARS-CoV-2.

Puspaningsih menuturkan dari seluruh jumlah data bersisi mutan D614G, sebanyak 8 data berasal dari Indonesia. Dia berkata kemungkinan akan bertambah menjadi 12 karena LIPI juga baru saja melaporkan memiliki 4 data mutan D614G usai melakukan sekuens genom utuh atau Whole Genome Sequencing (WGS).

(DAL/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK