Fakta Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Indonesia

CNN Indonesia | Senin, 07/09/2020 17:20 WIB
Fenomena Kulminasi Matahari atau Hari Tanpa Bayangan akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia dua bulan ke depan. Ilustrasi kulminasi atau hari tanpa bayangan. (Destriadi Yunas Jumasani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan kulminasi Matahari atau Hari Tanpa Bayangan akan terjadi di kota Sabang, Provinsi Aceh pada hari ini (7/9).

Kulminasi adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit di suatu wilayah. Saat Matahari berada di tepat di atas suatu daerah atau sama dengan lintang pengamat, fenomena ini disebut sebagai Kulminasi Utama.

Pada saat itu Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat 'menghilang' karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Oleh karena itu, hari kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.


"Ketika Matahari berada di atas Indonesia, tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tidak berongga ketika tengah hari, sehingga fenomena ini dapat disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan," kutip Lapan.

Peristiwa hari tanpa bayangan ini berkaitan erat dengan gerak semu tahunan Matahari. Gerak semu ini membuat matahari seolah-olah bergerak ke arah utara dan selatan Bumi setiap tahunnya.

Gerak ini terjadi karena titik rotasi bumi yang tidak tegak lurus terhadap Matahari. Sehingga ketika Bumi bergerak mengelilingi Matahari, seolah-olah Matahari bergerak dari bagian utara dan selatan Bumi. Oleh karena itu gerakan ini disebut gerakan semu.

Gerakan semu tahunan inilah yang menyebabkan perubahan iklim di Bumi. Ketika Matahari berada di utara, maka Bumi bagian selatan akan mengalami musim dingin. Begitu juga sebaliknya, ketika Matahari di selatan, maka Bumi bagian utara akan mengalami musim dingin.

Saat pergerakan semu Matahari ini melewati daerah khatulistiwa, khususnya Indonesia. Maka pengamat bakal mengalami fenomena hari tanpa bayangan. Fenomena ini punya periode tertentu dan berbeda di tiap kota tergantung garis lintang kota tersebut.

Lebih lanjut,  LAPAN menjelaskan Indonesia terbentang dari 6 derajat Lintang Utara hingga 11 derajat Lintang Selatan dan membelah garis khatulistiwa. Akibatnya, Matahari akan berada di atas Indonesia ketika tengah hari pada bulan September-Oktober.

LAPAN juga menjelaskan hari tanpa bayangan terjadi dua kali dalam satu tahun untuk wilayah yang terletak di antara Garis Balik Utara (Tropic of Cancer; 23,4 derajat Lintang Utara) dan Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn; 23,4 derajat Lintang Selatan).

Untuk kota-kota yang yang terletak tepat di Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan akan mengalami hari tanpa bayangan hanya sekali setahun. Yaitu saat Solstis Juni (21/22 Juni) atau Solstis Desember (21/22 Desember).

Tak hanya Sabang, Hari Tanpa Bayangan akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Besok (8/9) Kota Banda Aceh juga akan mengalami Hari Tanpa Bayangan pada pukul 12.37 WIB.

Kota Miangas di Sulawesi Utara juga akan mengalami Hari Tanpa Bayangan pada 8 September, pukul 11.31 WITA.

(jnp/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK