Ahli: Belum Ada Pandemi yang Selesai Karena Vaksin

CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2020 16:03 WIB
Ahli epidemiologi menyebut hingga saat ini belum ada pandemi yang selesai dengan vaksin. Ahli sebut belum ada pandemi yang selesai dengan vaksin (AFP/NOEL CELIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan belum ada pandemi yang selesai dengan vaksin.

Alasannya, karena teknologi pengembangan vaksin di dunia belum cukup cepat merespon sebuah pandemi. Maksudnya, pandemi selesai sebelum vaksin selesai dibuat.

"Sampai saat ini tidak ada pandemi yang selesai dengan vaksin. Karena teknologi pengembangan vaksin yang dimiliki dunia belum cukup cepat dan canggih merespon," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/9).


Dicky menuturkan teknologi pengembangan vaksin saat ini masih membutuhkan waktu yang lama dalam menciptakan vaksin yang aman dan efektif.

Terdapat sejumlah kendala yang menyebabkan pengembangan vaksin butuh waktu lama. Misal dalam hal penyakit baru, masih banyak hal yang belum diketahui tentang penyakit ini.

Selain itu, teknologi yang ada juga masih belum memberikan jalan singkat untuk membuat vaksin. Meski menurut Dicky saat ini sudah ada sejumlah jalur cepat untuk menciptakan sebuah vaksin.

"Walau ada vaksin Zika yang (selesai dalam) 18 bulan, tapi itu belum efektif. Artinya, berdasarkan pengalaman pandemi sejauh ini kita belum bisa mendasarkan penyelesaian pandemi pada vaksin," ujarnya.

Lebih lanjut, Dicky menegaskan semua pandemi yang pernah terjadi selesai karena intervensi kesehatan publik. Pandemi selesai dengan pengetesan, pelacakan, isolasi, karantina, dan perawatan. Selain itu, warga juga perlu membiasakan perubahan perilaku seperti jaga jarak hingga cuci tangan.

Adapun vaksin yang sudah cukup efektif, lanjut Dicky baru terjadi pada penyakit menular yang yang menjadi endemik, misalnya polio. Namun, dia mengingatkan vaksin itu pun baru diperoleh setelah puluhan tahun.

"Ingat HIV yang sudah puluhan tahun vaksinnya juga belum ada. Kemudian Demam Berdarah yang sudah lama juga belum ada vaksin yang efektif samapi saat ini," ujar Dicky.

Tak hanya itu, Dicky menambahkan epidemi Ebola yang terjadi di Afrika bisa terkendali bukan karena obat atau vaksin. Melainkan akibat intervensi kesehatan di luar vaksin dan obat.

"Jadi, sekali lagi ini bukan mengecilkan optimisme, tapi ini fakta ilmiah dan fakta sejarah pandemi yang harus dipahami dan jadi rujukan pengambil kebijakan," ujarnya.

A Sinovac Biotech LTD vaccine candidate for COVID-19 coronavirus is on display at the China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) in Beijing on September 6, 2020. (Photo by NOEL CELIS / AFP)Vaksin (Photo by NOEL CELIS / AFP)

"Sehingga tidak salah ketika mengambil kebijakan yang akan dilakukan. Jadi tidak mendasarkan pada satu argumen yang ternyata tidak tepat," ujar Dicky.

Sebelumnya, Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo meyakini Indonesia bisa bebas dari pandemi virus corona Covid-19 tanpa harus menunggu keberadaan vaksin maupun obat. Ia mengatakan ini karena keberadaan vaksin dan obat yang masih memakan waktu lama.

Kunci pemutusan mata rantai pandemi Covid-19 berada di kombinasi 3T (testing, tracing, dan treatment) serta 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan).

Kunci ini juga harus didukung dengan kebijakan lockdown atau Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB) yang harus dituruti oleh masyarakat menghentikan mobilitas yang menjadi faktor penyebaran Covid-19.

Ahmad mengatakan pandemi SARS dan MERS yang diakibatkan dengan virus corona yang mirip dengan virus SARS-CoV-2 dapat dituntaskan tanpa adanya vaksin dan obat. Sebab, kedua pandemi itu berakhir sebelum uji klinis selesai.

Namun patut diingat bahwa penyakit SARS dan MERS ini cukup mudah untuk diidentifikasi karena menimbulkan gejala bagi orang yang terinfeksi.

Sehingga pihak berwenang bisa dengan mudah melakukan isolasi para penderita ini. Di sisi lain, banyak pasien Covid-19 yang sama sekali tak menimbulkan gejala.

Menurut Ahmad, virus SARS-CoV-2 lebih menyukai untuk menginfeksi saluran napas atas, seperti rongga hidung, faring, dan laring sebagai tempat untuk bereplikasi. Hal ini mengakibatkan orang yang terinfeksi tak menyebabkan gejala. Namun, begitu virus sampai ke paru, baru nampak gejalanya.

Sekalipun ada gejala, Ahmad mengatakan 80 persen orang tidak ada gejala atau sangat ringan sehingga tak sadar sudah tertular.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]