BMKG Ungkap Faktor Hujan-Angin Seminggu Terakhir Jabodetabek

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 12:47 WIB
Cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Jabodetabek beberapa hari terakhir akibat dinamika atmosfer. Ilustrasi hujan di wilayah Jabodetabek. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tomi Ilham menyatakan cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Jabodetabek beberapa hari terakhir akibat dinamika atmosfer. Dinamika ini dipicu aktifnya Madden Jullian Oscilation (MJO) di Indonesia.

MJO merupakan gangguan awan, hujan, angin, dan tekanan udara yang melintasi kawasan tropis dan kembali ke titik awal dalam kurun waktu rata-rata 30 hingga 60 hari. MJO kerap digambarkan sebagai variabilitas iklim tropis interseasonal (bervariasi setiap minggunya).

"Saat ini kondisi dinamika atmosfer di wilayah Jabodetabek, salah satu pemicunya adalah aktifnya MJO di wilayah Indonesia," ujar Tomi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (17/9).


Tomi menuturkan kondisi lokal di wilayah Jabodetabek juga cukup mendukung untuk proses pertumbuhan awan-awan hujan, terutama pada sore hingga malam hari.

Lebih lanjut, Tomi menjelaskan secara umum potensi hujan pada awal dasarian minggu ke dua bulan September di wilayah Jabodetabek akan meningkat. Namun, dia berkata mengacu pada prediksi awal musim hujan yang diprakirakan akan terjadi pada akhir Oktober maka kondisi ini masih akan fluktuatif.

"Dan dapat dikatakan saat ini wilayah Jabodetabek memasuki masa pancaroba atau transisi dari musim kemarau ke musim penghujan," ujarnya.

Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto menilai musim kemarau kali ini sedikit berbeda dengan musim kemarau tahun lalu. Analisis menunjukkan beberapa wilayah akumulasi hujan bulanan selama kemarau di atas normalnya.

"Artinya lebih banyak dari musim kemarau pada umumnya. Namun begitu beberapa wilayah juga masih terpantau mengalami musim kemarau, bahkan ada wilayah wilayah yang masih tidak turun hujan lebih dari 3 bulan, 2 bulan, dan sebulan," ujar Siswanto.

Siswanto membeberkan beberapa daerah yang tidak turun hujan dalam waktu lama, seperti sebagian Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, Madura, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

"Musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali, tetapi hujan musim kemarau biasanya terjadi dalam waktu yang tidak lama dan tidak berlangsung terus menerus berhari-hari," ujarnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, dia mengaku memang beberapa wilayah yang mengalami kemarau di Indonesia bagian barat, sebagian besar Jawa dan Sumatera bagian selatan terpantau terjadi hujan musim kemarau lebih sering dari biasanya.

Di sisi lain, Siswanto menjelaskan hujan deras sebagai proses cuaca tidak lepas dari pengaruh dinamis dan fisis yang terjadi di atmosfer, seperti adanya suplai uap air berlebih yang cukup untuk menumbuhkan awan dan kumpulan awan besar.

Selain itu sirkulasi angin yang mengumpulkan masa udara lembab dan awan tersebut di suatu wilayah, misalnya oleh adanya konvergensi (pertemuan) angin, pusaran, orografis di wilayah pegunungan dan lain-lain.

Penyebab suplai masa udara basah yang berlebih

Siswanto menyampaikan ada sejumlah faktor regiolenal yang mempengaruhi suplai masa udara basah yang berlebih. Pertama, suhu muka laut yang hangat di perairan bagian utara Indonesia, sebelah barat Sumatera, dan perairan sekitar Jawa Barat sampai Lampung.

"Ini akan menjadi suplai utama masa udara basah akibat proses penguapan yang lebih intens dibandingkan wilayah perairan yang suhu muka lautnya lebih dingin," ujar Siswanto.

Kedua, adanya pengumpulan masa udara basah di atas wilayah wilayah yang terjadi konvergensi angin secara lokal atau regional, yakni Siklon Tropis Noul di Laut Cina Selatan barat Filipina saat ini.

Selain menjadi penarik masa udara dan awan awan menuju pusat pusarannya, fenomena itu menciptakan sirkulasi angin yang lebih kuat.

"Ini dapat terpantau dari peta garis angin dan citra satelit awan-awan hujan yang dimonitor oleh BMKG," ujarnya.

Kemudian, aktifnya gelombang atmosfer ekuator tropis MJO dan lainnya hingga sepekan ke depan di wilayah Indonesia, terutama bagian barat, tengah, dan utara dekat ekuator yang menambah suplai uap air dan kondusif untuk pertumbuhan awan-awan besar.

Terakhir, terdapat peluang terjadi fenomena La Nina, yaitu mendinginnya suhu muka laut Samudera Pasifik ekuator bagian tengah dan menghangatnya suhu muka laut perairan Indonesia yang disertai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, yaitu suhu muka laut di perairan barat Sumatera lebih hangat dibandingkan suhu muka laut Samudera Hindia timur Afrika.

"Kejadian La Nina dan IOD- ini sama-sama menambah suplai masa uap air di wilayah Indonesia sehingga lebih kondusif untuk pertumbuhan awan awan hujan, meskipun nanti respon tiap wilayah akan berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan dinamika cuacanya," ujar Siswanto.

Sebelumnya, BMKG memprediksi awal musim hujan umumnya mulai Oktober 2020. Sedangkan puncak musim hujan akan terjadi Januari 2021.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]