Perlombaan Fast Charging Super 120W kala Pandemi Covid-19

CNN Indonesia | Sabtu, 26/09/2020 11:53 WIB
Persaingan antar smartphone saat ini bukan hanya soal kamera atau cipset. Namun soal pengisian daya baterai super cepat atau fast charging. Ilustrasi fast charging ponsel. (Raw Pixel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Persaingan antara vendor smartphone saat ini bukan hanya soal kamera, baterai, dan cipset. Kali ini seluruh vendor berbondong-bondong menuju ke era pengisian daya baterai super cepat atau fast charging.

Pengisian daya super cepat ini telah menyentuh angka 125 Watt. Meski belum ada satu pun ponsel dengan pengisian daya 125W, beberapa vendor seperti iQoo,Oppo, Xiaomi, dan Realme telah mengumumkan teknologi 

Realme resmi meluncurkan perangkat pengisi daya cepat (fast charging) 125 Watt bernama UltraDART. Peluncuran itu dilakukan sehari setelah Oppo meluncurkan SuperVOOC, pengisi daya yang juga berkekuatan 125W.


Realme mengklaim UltraDART dapat mengisi baterai berkapasitas 4.000 mAh dari 0 ke 33 persen hanya dalam tiga menit.

Pengisi daya super cepat 120W akan diberi arus listrik 20V dan 6A. Teknologi dapat mengisi  baterai 4.000 mAh dari nol hingga penuh hanya dalam 15 menit dan pengisian 5 menit dapat mengisi 50 persen baterai.

Saat ini berbagai ponsel telah dibekali dengan pengisian daya 65W. Sebagai perbandingan, pengisian cepat 65W dapat mengisi baterai 4000 mAh dalam waktu sekitar 27 menit.

Dilansir dari TechRadar, teknologi ini akan membawa patokan dan standar baru pengisian daya ponsel pintar di seluruh dunia. Permintaan konsumen terhadap pengisian daya cepat semakin meningkat di kala pandemi Covid-19.

Oleh karena itu para vendor ponsel berlomba-lomba di sektor pengisian daya super cepat untuk menjawab kebutuhan pasar itu. Vendor berusaha untuk menjaring konsumen dengan memberikan kecepatan pengisian daya ponsel. 

Cara kerja super fast charging

Mempercepat pengisian baterai dilakukan dengan memperbesar voltase atau memperbesar ampere. Oppo menjelaskan VOOC berbeda dengan perangkat pengisian daya cepat yang lain. VOOC menggunakan voltase rendah dan ampere yang besar.

Membesarkan ampere, sama dengan membesarkan tabung tempat listrik mengalir. Sehingga ketika arus listrik ditambah, tekanan pada baterai tidak semakin besar.

Menurut Oppo, selama ini banyak teknologi pengisian daya yang mengambil pendekatan pengisian daya dengan voltase tinggi.

Jika pengisian dengan voltase tinggi tanpa memperbesar tabung (ampere), maka tekanan pada baterai akan semakin tinggi. Akibatnya, baterai makin cepat panas dan ada risiko terbakar.

"Panas pada baterai itu sendiri yang berakibat membuat terjadi masalah seperti overheat atau bisa saja sampai terjadi percikan dan ledakan," kata Oppo.

Selain memperbesar ampere, teknologi fast charging OPPO juga diamankan menggunakan chip yang bernama MCU (Micro Controling Unit). Chip ini akan mengatur distribusi daya ke baterai dan memonitor suhu ketika melakukan pengisian daya.

"Pada 125W SuperVOOC di dalam ekosistem pengisian daya, kita sampai meletakkan 10 sensor suhu di dalamnya," kata Oppo.

Melansir GizmoChina, teknologi pengisian cepat Realme mengadopsi struktur flip-chip yang memperpendek jalur antara port Type-C dan mengurangi sumber panas.

Perangkat itu juga mengadopsi pelat perendaman VC ultra-tipis dengan efisiensi konduksi panas tinggi untuk cepat menyerap dan menyebarkan energi panas selama bekerja.

Realme juga mengatakan penggabungan sistem gel konduktif termal dan lembaran grafit multi-layer area luas. Penggabungan ini membuat suhu rata-rata selama proses pengisian tidak akan melebihi 40 derajat celsius.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]