Ahli RI Respons Klaim ASI dan Obat Semprot Bisa Obati Corona

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 17:15 WIB
Epidemiolog merespons temuan ilmuwan China dan Australia yang menyebut ASI dan obat semprot bisa sembuhkan Covid-19. Ilustrasi ASI yang disebut China bisa sembuhkan Covid-19. (Istockphoto/Reptile8488)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemilog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan tidak ada bukti yang menyatakan ASI (Air Susu Ibu) mampu mencegah dan mengobati virus corona Covid-19. Dia justru membenarkan belum ada bukti yang menjelaskan ASI menjadi perantara penularan virus.

Dicky pun lebih menekankan sejauh ini ASI lebih berperan untuk meningkatkan imunitas anak. Dia menilai peran ASI untuk mengobati Covid-19 perlu penelitian lebih lanjut.

"Yang jelas saat ini ASI tidak bisa sembuhkan Covid-19," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Selasa (29/9).


Pernyataan Dicky merespons temuan ilmuwan China dan dipublikasikan di situs kesehatan biorxiv.org bahwa ASI bisa menyembuhkan Covid-19.

Mengutip South China Morning Post, riset yang dipimpin oleh Profesor Tong Yigang dari Beijing University of Chemical Technology mengklaim telah mengumpulkan ASI sejak tahun 2017, jauh sebelum terjadinya pandemi.

ASI tersebut sudah diuji pada jenis sel bervariasi dari sel ginjal hewan hingga sel paru-paru dan usus anak muda. Hasilnya sebagian besar strain virus yang hidup terbunuh oleh ASI.

Peneliti China itu mengklaim hampir tidak ada pengikatan atau masuknya virus ke sel-sel ini. Pengobatan juga menghentikan replikasi virus dalam sel yang sudah terinfeksi. Riset menyimpulkan bahwa infeksi dapat dihalau oleh ASI, yang diketahui memiliki efek menekan pada bakteri dan virus seperti HIV.

Tong Yigang dkk menduga virus corona sensitif terhadap beberapa protein antivirus di dalam susu, seperti laktoferin, tetapi tidak menemukan satu pun protein yang bekerja seperti yang diharapkan. Sebaliknya, mereka mengatakan bahan yang paling disukai untuk menghambat virus adalah whey, yang mengandung beberapa protein berbeda.

Riset kemudian mengatakan mereka belum menemukan tanda-tanda bahaya yang disebabkan oleh ASI, yang mendorong proliferasi sel saat membunuh virus.

Respons Obat Semprot Obati Covid-19

Sementara itu, Dicky menjelaskan obat semprot untuk mengurangi tingkat virus corona SARS-CoV-2 bukan hal yang mengejutkan. Dia mengatakan obat serupa pernah dikembangkan saat pandemi SARS dan MERS.

"Obat yang disemprotkan atau nasal spray yang saat ini diuji memang untuk di kasus MERS dan SARS itu ada uji, tapi uji lab," ujar Dicky.

Dicky menjelaskan obat semprot yang dikembangkan pada saat SARS dan MERS menggunakan Povidon-iodin, sejenis Betadine. Kala itu, dia mengatakan hasil uji lab menunjukkan ada efektifitas dalam menurunkan jumlah virus di saluran napas atas, yakni hidung dan tenggorokan ketika disemprotkan.

"Namun itu risetnya di lab pada saat MERS dan SARS. Sehingga untuk Covid-19 ini secara teoritis memang ada risetnya menunjukkan memang bisa mengurangi jumlah partikel virus," ujarnya.

Sebelumnya, perusahaan bioteknologi Australia Ena Respiratory mengaku memiliki obat semprot untuk mengurangi tingkat virus corona SARS-CoV-2. Perusahaan itu berkata INNA-051 dapat menurunkan replikasi virus hingga 96 persen. INNA-051 merupakan molekul kecil sintetis yang diberikan melalui semprotan hidung .

Meski menjadi kabar baik, dia mengingatkan obat semprot itu masih harus melewati serangakaian pengujian. Jika berhasil, dia menilai obat semprot itu akan lebih tepat digunakan oleh orang positif Covid-19 yang sedang menjalani isolasi atau karantina.

"Hanya perlu dipahami itu bukan obat. Itu hanya untuk meminimalisir dan sifatnya pencegahan," ujarnya.

Dicky menambahkan penurunan jumlah virus di dalam tubuh bisa berdampak baik pada kerja imunitas. Dia mengatakan imunitas akan lebih kuat melindungi tubuh karena jumlah virus yang sedikit.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]